Teknik Pemetaan Konflik

No ratings yet.
Teknik Pemetaan Konflik
Teknik Pemetaan Konflik

Teknik Pemetaan Konflik

Teknik Pemetaan Konflik – Konflik dapat diartikan sebagai perjuangan atas nilai-nilai atau klaim status, kekuasaan, dan sumber daya langka lainnya dari kelompok yang berkonflik tidak hanya untuk mendapatkan nilai-nilai yang diinginkan, tetapi juga untuk mempengaruhi, mengubah, atau melukai saingannya. Bagaimanakah dapat melakukan pemetaan konflik? Berikut penjelasannya.

Setelah mempelajari bahasan ini, kalian diharapkan mampu memahami mengenai pemetaan konflik.

Agar tiap tindak penanggulangan dan resolusi konflik dapat sungguh menyentuh akar penyebab dan mengembalikan kedamaian, maka terlebih dahulu perlu diterapkan metode penelitian untuk memahami konflik. Penerapan metode penelitian ini lazim disebut pemetaan konflik (conflict mapping). Diawali dengan pengumpulan data (melalui observasi, wawancara, angket, maupun penelusuran sumber data sekunder), lantas dilanjutkan dengan analisis terhadap konflik hingga mampu merekomendasikan solusi terbaik.

Miall, Romsbotham, dan Wood menguraikan sejumlah pertanyaan yang dapat digunakan sebagai panduan pengumpulan data, di antaranya:

  1. Siapakah pihak-pihak yang berkonflik?
  2. Apakah yang menjadi persoalan konflik?
  3. Apakah mungkin membedakan antara posisi, kepentingan (materi, nilai, hubungan) dan kebutuhan?
  4. Bagaimanakah hubungan antara pihak-pihak yang berkonflik?
  5. Bagaimanakah persepsi para pihak mengenai konflik?
  6. Bagaimanakah perilaku terkini dari pihak-pihak yang berkonflik?
  7. Siapakah pemimpin dari pihak-pihak yang berkonflik?
  8. Pada tingkat elite dan individual, apakah yang menjadi tujuan, kebijakan, kekuatan, serta kelemahan relatif dari pihak-pihak yang berkonflik?

Lebih lanjut, Wehr dan Bartos, mengembangkan teknik pemetaan konflik berikut :

  1. Menelusuri konteks (specify the context)
    Yakni menelusuri informasi mengenai sejarah konflik dan bentuk fisik maupun tata organisasi kelompok yang terlibat konflik. Konflik tidak muncul di ruang hampa, melainkan dalam konteks politik negara, keluarga, kelompok, atau komunitas.
  2. Mengidentifikasi para pihak (identify the parties)
    Ialah mengidentifikasi pihak-pihak berkonflik, yang terdiri atas pihak utama berkonflik (mereka yang menggunakan perilaku dan tindakan permusuhan, memiliki kepentingan langsung dari hasil konflik), pihak konflik sekunder (memiliki kepentingan tidak langsung terhadap hasil konflik), dan pihak ketiga (aktor yang netral dan bersedia mendorong penyelesaian konflik).
  3. Memisahkan sebab dari akibat (separate causes from consequences)
    Dalam hal ini, perlu dilakukan pemisahan antara akar penyebab konflik dan akibat-akibat sampingan dari konflik.
  4. Memisahkan tujuan dari kepentingan (separate goals from interests)
    Kepentingan biasanya lebih luas dibandingkan tujuan.
  5. Memahami dinamika (understand the dynamics)
    Adalah memahami perkembangan situasi yang diakibatkan oleh berbagai tindakan para pihak berkonflik.
  6. Mencari fungsi positif (search for positive functions)
    Yaitu menemukan bentuk-bentuk sikap dan perilaku para pihak berkonflik yang memungkinkan konflik dapat diarahkan pada penyelesaian.
  7. Memahami potensi regulasi (understand the regulation potentials)
    Merupakan upaya mencari tahu bagaimana aturan legal (peraturan perundang-undangan) dapat mengintervensi atau membantu penyelesaian konflik.

Rangkuman

  1. Agar tiap tindak penanggulangan dan resolusi konflik dapat sungguh menyentuh akar penyebab dan mengembalikan kedamaian, maka terlebih dahulu perlu diterapkan metode penelitian untuk memahami konflik.

Please rate this

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *