Pengertian Pan-Islamisme – Latar Belakang, Faktor Pendorong dan Tujuannya

No ratings yet.
Pengertian Pan-Islamisme - Latar Belakang, Faktor Pendorong dan Tujuannya
Pengertian Pan-Islamisme – Latar Belakang, Faktor Pendorong dan Tujuannya

Pengertian Pan-Islamisme – Latar Belakang, Faktor Pendorong dan Tujuannya

Pengertian Pan-Islamisme – Latar Belakang, Faktor Pendorong dan Tujuannya – Pan-Islamisme merupakan penjelmaan modern dari ajaran tradisional Islam mengenai persatuan antar umat Islam (Al Wahdah Al-Islamiyyah atau Al-Ittihad Al-Islamiyyah). Ajaran ini menyebutkan bahwa kaum muslim termasuk ke dalam umat Islam universal, dimana pun mereka berada. Persatuan Pan-Islamisme mengatasi berbagai perbedaan bahasa, budaya, atau etnis di kalangan muslim. Lalu apa yang dimaksud dengan Pan-Islamisme? Untuk lebih memahaminya, mari kita simak pembahasan berikut ini.

Pengertian Pan-Islamisme

Pan-Islamisme merupakan suatu ide yang bersifat internasional yang bermaksud untuk menggalang hubungan Ukhuah Islamiyyah antar sesama orang Islam dan biasanya dikaitkan dengan gerakan kilafat. Ada kaitan erat antara ide Pan-Islamisme dengan jabatan khalifah yang dipegang oleh Sultan Turki. Pada tahun 1517, Sultan Turki Usmani bernama Salim I merebut Mesir dan menggulingkan Khalifah Abasiah terakhir.

Pengertian Pan-Islamisme secara klasik adalah penyatuan seluruh dunia Islam dibawah satu kekuasaan politik dan agama yang dikepalai oleh seorang khalifah. Secara modern bisa diartikan bahwa kepemimpinan tersebut hanya meliputi bidang agama. Dalam perkembangan selanjutnya, Pan-Islamisme hanya sekedar berusaha untuk menyatukan seluruh umat Islam dalam satu ikatan setia kawan atau menghidupkan ukhuwah Islamiyah dikalangan dunia Islam.

Meskipun demikian Pan-Islamisme dalam pengertian ini tetap dianggap berbahaya oleh negara-negara penjajah, karena bisa membangkitkan perlawanan bangsa-bangsa Islam yang dikuasainya. Kekhawatiran negara-negara penjajah terhadap Pan-Islamisme memang beralasan, apalagi pada waktu meletusnya perang dunia I, negara Turki terlibat perang bersama Jerman melawan sekutu. Meskipun kepulauan Indonesia relatif sangat jauh dari Turki, hal ini tidak menghalangi terjadinya hubungan antara keduanya. Pada abad ke XVI Aceh mempunyai perwakilan di Istambul, sedangkan senjata api dan tentara Turki dikirim ke Aceh untuk membantu tentara Sabil dalam menghadapi Portugis di Malaka.

READ:  Perkembangan Komputer

Gerakan Pan-Islamisme ini didesak oleh Al-Afghani sebagai satu-satunya benteng pertahanan terhadap pendudukan dan dominasi asing atas negeri-negeri muslim yang semakin lama semakin terpojok oleh bangsa-bangsa kolonial yang hanya mementingkan kepentingan mereka sendiri.

Latar Belakang Berdirinya Gerakan Pan-Islamisme

Pan-Islamisme adalah sebuah gerakan perjuangan untuk menyatukan umat Islam dalam satu negara Islam. Gerakan ini dipelopori oleh seorang reformis Islam kelahiran Afghanistan tahun 1838 M bernama Jamaluddin Al-Afghani. Al-Afghani sudah mengungkapkan gagasannya tentang pembaharuan Islam dan pentingnya kesatuan umat Islam lewat bulletin Al-Urwah Al-wuthqo yang dia terbitkan bersama muridnya Muhammad Abduh. Ketika menjadi penasehat Sultan Abdul Hamid, penguasa Turki Usmani pada waktu itu, Al-Afghani mulai menyebarluaskan pemikirannya tentang Pan-Islamisme ke negara-negara Islam. Al-Afghani melihat bahwa kemunduran umat Islam bukanlah karena Islam tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman dan perubahan kondisi, kemunduran ini disebabkan oleh beberapa faktor.

Faktor Pendorong Gerakan Pan-Islamisme

Faktor yang mendorong munculnya gerakan Pan-Islamisme ialah:

  1. Dunia Kristen, walaupun terpisah secara geografis, budaya, dan nasib namun akan selalu menggalang pemersatuan kekuatan untuk menghadapi dunia Islam.
  2. Pada masa kehidupan Al-Afghani, mayoritas negara Islam tidak berdaya melawan kekuatan imperialis Barat. Perlawanan yang dilakukan negara Islam tidak sebanding dengan kekuatan militer bangsa penjajah.
  3. Al-Afghani menyimpulkan bahwa kebencian umat Kristen terhadap umat Islam bukan hanya datang dari sebagian umat Kristen, namun berasal dari semua lapisan masyarakat. Keadaan ini akan tetap berlangsung hingga umat Islam mau mengakui keunggulan Kristen kemudian mengikuti segala kegiatan mereka.
  4. Persatuan umat Islam merupakan sebuah keniscayaan untuk melawan gelombang serangan bangsa. Masa-masa kejayaan dunia Islam berlangsung selama beberapa abad yang pengarunya menyebar ke beberapa belahan dunia non muslim dan pada akhirnya mengalami masa kemunduran.
READ:  Perundingan Roem-Royen, Konferensi Inter-Indonesia, Konferensi Meja Bundar

Berbagai krisis yang sangat kompleks telah melanda dunia Islam, diantaranya adalah:

  1. Krisis Dalam Bidang Sosial Politik
    Etika politik Islam telah di injak-injak, hingga tidak segan-segan untuk menyebarkan fitnah demi tercapainya ambisi politik. Islam mengajarkan prinsip demokrasi dalam kehidupan bernegara. Penegasan seperti ini tidak sekedar pengakuan dari orang Islam sendiri, melaikan orang lain pun mengakui secara jujur sebagaimana pengakuan yang dikemukakan oleh Profesor Lybyer bahwa “syariat Islam adalah demokratis pada pokoknya dan pada prinsip musuh bagi Absolutisme”.
  2. Krisis Dalam Bidang Keagamaan
    Krisis ini berpangkal dari suatu pendirian sementara ulama Jumud (konservatif) yang menyatakan bahwa pintu ijtihad telah tertutup. Untuk menghadapi berbagai permasalahan kehidupan, umat Islam cukup mengikuti pendapat Imam Madzhab.
  3. Krisis Bidang Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan
    Krisis ini merupakan akibat dari adanya krisis dalam bidang sosial politik dan bidang keagamaan. Bahwa dengan jatuhnya pusat-pusat kekuasaan Islam, baik di belahan Barat yang berpusat di Cordova maupun di bagian Timur yang berpusat di Bagdad ternyata penderitaan yang dialami di dunia Ilmu pengetahuan adalah sama. Kaum nasrani Spanyol maupun tentara Mongol berekelakuan layaknya orang Barbar dan tidak dapat menghargai pentingnya nilai ilmu pengetahuan, perpustakaan maupun lembaga pendidikan di porak-porandakan dan dibakar. Dalam kondisi yang seperti ini sudah tentu dunia pendidikan tidak mendapat ruang gerak yang memadai, segala aspek yang menunjang berkembangnya lembaga-lembaga pendidikan serba terbatas.
READ:  Proses Masuk dan Perkembangan Penjajahan Bangsa Barat di Indonesia

Tujuan Gerakan Pan-Islamisme Menurut Pendapat Al-Afghani

Tujuan gerakan Pan-Islamisme oleh Al-Afghani dijelaskannya dalam sebuah buku yang berjudul Tatimmat Al-Bayan Fi Tarikh Al-Afghan, dalam buku ini Al-Afghani mengatakan dengan tegas ide dan gagasannya yang ditujukan untuk para penguasa atau pemimpin khususnya kepada seluruh umat muslim, misanya:

  • Hendaklah kamu menjauh dari toleransi terhadap orang orang yang zolim dan menghukum orang yang salah meskipun itu anakmu sendiri.
  • Jangan memberikan kesempatan untuk mendapatkan peluang kepada bangsa lain untuk mendapatkan hak atau peluang karena itu akan merusak kekuasaan dan negaramu.
  • Tatkala kekuasaan Inggris masih tersisah pada zaman ini maka kamu jalani saja dan tetapkan tekat untuk memerdekakan negaramu.
  • Jadikanlah kewajiban pertama yang membebanimu menjaga kemaslahatan rakyatmu dalam situasi apapun.

Rangkuman

  1. Pan-Islamisme merupakan suatu ide yang bersifat internasional yang bermaksud untuk menggalang hubungan Ukhuah Islamiyyah antar sesama orang Islam dan biasanya dikaitkan dengan gerakan kilafat.
  2. Gerakan Pan-Islamisme ini didesak oleh Al-Afghani sebagai satu-satunya benteng pertahanan terhadap pendudukan dan dominasi asing atas negeri-negeri muslim yang semakin lama semakin terpojok oleh bangsa-bangsa kolonial yang hanya mementingkan kepentingan mereka sendiri.

Please rate this