Gangguan Pada Sistem Pencernaan Makanan

No ratings yet.
Gangguan Pada Sistem Pencernaan Makanan
Gangguan Pada Sistem Pencernaan Makanan

Gangguan Pada Sistem Pencernaan Makanan

Gangguan pada Sistem Pencernaan – Pada topik sebelumnya, kalian telah mempelajari tentang sistem pencernaan makanan. Kalian pun tentu harus selalu menjaga kesehatan organ-organ yang terlibat dalam pencernaan makanan. Nah, pada topik kali ini kalian akan mempelajari tentang gangguan pada sistem pencernaan makanan. Bagaimana bisa terjadi gangguan ini?

Pernahkah kalian memperhatikan atap rumah yang bocor? Bagaimana bisa atap rumah itu bocor? Tentunya ada yang tidak beres dengan atap rumah tersebut seperti penataan genteng yang kurang pas maupun talang air yang tidak mampu menahan banyaknya air hujan. Sama dengan tubuh manusia, pada sistem pencernaan makanan pun bisa terjadi gangguan. Seperti apa sih gangguan pada sistem pencernaan makanan?

Gangguan pada sistem pencernaan cukup beragam. Penyebabnya pun bermacam-macam seperti makanan yang kurang baik dari segi kebersihan dan kesehatan, pola makan yang kurang tepat, adanya infeksi, dan lain-lain. Ada beberapa gangguan atau kelainan yang dapat terjadi pada sistem pencernaan, diantaranya sebagai berikut.

  1. Diare
    Diare merupakan keadaan buang air besar yang terlalu sering dengan feses yang banyak mengandung air. Penyebabnya adalah penderita memakan makanan yang mengandung bakteri atau kuman. Akibatnya gerakan peristaltik dalam usus tidak terkontrol sehingga laju makanan meningkat dan usus tidak dapat menyerap air. Namun, apabila feses yang dikeluarkan bercampur darah dan nanah, kemudian perut terasa mulas, gejala tersebut menunjuk pada penyakit disentri yang disebabkan infeksi bakteri Shigella pada dinding usus besar. Diare yang berlangsung lama menyebabkan dehidrasi yang mengakibatkan tubuh terasa lemas karena banyak kehilangan air dan garam mineral. Penderita diare hendaknya diberi minum garam oralit. Fungsinya untuk mencegah terjadinya kekurangan cairan tubuh akibat diare. Pencegahan diare dapat dilakukan dengan cara cuci tangan sebelum makan dan sesudah buang air besar, serta minum air dan makan makanan yang sudah dimasak.
  2. Sembelit (Konstipasi)
    Sembelit terjadi bila buang air besar lambat. Hal ini dikarenakan usus besar menyerap air secara berlebihan sehingga feses menjadi kering dan keras. Beberapa faktor penyebab sembelit adalah sebagai berikut.
    – Kurang minum
    – Kurang makan berserat
    – Tidak membiasakan diri buang air besar setiap hari
    – Usia
    – Kurangnya aktivitas fisik
    – Kehamilan
    – Dalam kondisi sakit
    – Stress
    Beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mencegah sembelit yaitu sebagai berikut.
    – Pilih makanan yang banyak mengandung serat
    – Hindari makan makanan yang berlemak tinggi dan terlalu manis
    – Banyak minum air putih
    – Rutin berolahraga
    – Biasakan buang air besar setiap hari
    – Jangan menggunakan obat pelancar buang air besar secara berlebihan
  3. Tukak Lambung (Maag)
    Sakit maag adalah luka pada lapisan lambung atau usus dua belas jari. Penyakit ini ditandai dengan gejala lambung terasa perih, mual, pegal-pegal di punggung, kurang nafsu makan, dan muntah-muntah. Penyakit ini disebabkan kebiasaan makan yang tidak teratur. Jika tidak segera makan pada saat lapar, lambung menjadi kosong. Akibatnya asam lambung yang dihasilkan untuk mencerna makanan melukai lambung.
  4. Radang Usus Buntu (Appendictis)
    Radang usus buntu diakibatkan dari infeksi yang terjadipada usus buntu. Gejalanya adalah sakit perut bagian bawah sebelah kanan. Radang usus buntu terjadi jika lubang yang menghubungkan usus buntu dengan usus besar tersumbat karena lendir yang menebal atau masuknya benda keras. Infeksi ini menyebabkan usus buntu meradang dan menimbulkan rasa sakit.
  5. Radang pada Dinding Lambung (Gastritis)
    Gastritis merupakan peradangan yang terjadi pada membran mucus yang melapisi lambung. Gejalanya adalah sulit bernapas, feses hitam bercampur darah, sakit kepala, dan rasa tidak nyaman di perut. Radang dinding lambung dapat disebabkan oleh alergi, alkohol, obat-obatan, racun, dan bakteri tertentu. Radang dinding lambung yang disebabkan bakteri dapat diobati dengan antibiotik, sedangkan yang disebabkan oleh racun dapat diobati dengan anticholinergic.

Sistem Pencernaan Makanan pada Hewan Ruminansia

Setelah kalian menguasai semua hal mengenai zat makanan yang diperlukan oleh manusia, sistem pencernaan, dan juga berbagai gangguan pada sistem pencernaan diharapkan kalian dapat memiliki pola makan yang sehat. Selain itu, juga dapat menghindarkan tubuh dari gangguan atau penyakit pada sistem pencernaan.

Pada topik kali ini, kita akan mempelajari sistem pencernaan makanan pada hewan ruminansia. Mengapa perlu mempelajari sistem pencernaan hewan lain selain manusia? Tujuannya agar kita dapat membandingkan keunikan dan perbedaan sistem pencernaan pada hewan lain. Dengan memahami keunikan cara kerja sistem pencernaan yang berbeda, kita dapat memahami bagaimana keunikan biologis terbentuk sesuai dengan adaptasi makhluk hidup terhadap lingkungannya. Pengetahuan mengenai macam-macam sistem biologis di alam ini seringkali berguna untuk diterapkan menjadi teknologi baru.

Hewan ruminansia atau hewan memamah biak sama dengan hewan herbivora atau pemakan tumbuhan. Disebut memamah biak karena proses mengunyah makanan dilakukan dua tahap. Pertama saat memakan rumput atau daun, langsung ditelan untuk dicerna di perut. Dari perut ini dikeluarkan lagi ke mulut untuk dikunyah hingga halus. Setelah itu, barulah masuk ke perut yang sesungguhnya, kemudian mengalami proses pencernaan lanjut hingga selesai.

section-media

Keistimewaan hewan ruminansia adalah lambungnya memiliki empat bagian dengan fungsinya masing-masing, yaitu sebagai berikut.

  1. Rumen
    Rumen adalah gudang sementara bagi makanan yang ditelan. Di dalamnya terdapat bakteri dan protozoa yang menghasilkan enzim pencernaan dari mulai amilase, protease, lipase, hingga selulase.
  2. Retikulum
    Dari rumen, makanan bergerak ke retikulum untuk diproses dengan kontraksi dinding retikulum. Dari sini, makanan yang sudah cukup halus kembali lagi ke mulut untuk dikunyah.
  3. Omasum
    Setelah dikunyah sampai halus di mulut, makanan masuk ke omasum. Omasum juga berisi enzim-enzim pencernaan.
  4. Abomasum
    Abomasum ini mirip dengan lambung manusia karena menghasilkan enzim dan asam klorida (HCl). HCl berguna untuk membunuh kuman-kuman yang ada di dalam makanan.

Bagaimana dengan proses saat hewan ruminansia meminum air? Saat menelan air, rumen dan retikulum menjadi lipatan yang membentuk saluran mulut – esophagus – omasum – abomasum, sehingga air langsung masuk ke abomasum. Mekanisme ini yang terjadi pada saat anak sapi baru lahir dan masih menyusu pada induknya.

Demikian penjelasan singkat mengenai sistem pencernaan hewan ruminansia. Coba kalian baca-baca lagi informasi lain yang tidak ada di buku teks kalian mengenai topik ini untuk memperluas wawasan. Selamat belajar ….

Please rate this

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *