Reproduksi, Klasifikasi, Peranan dan Ciri-Ciri Coelenterata

No ratings yet.
Reproduksi, Klasifikasi, Peranan dan Ciri-Ciri Coelenterata
Reproduksi, Klasifikasi, Peranan dan Ciri-Ciri Coelenterata

Reproduksi, Klasifikasi, Peranan dan Ciri-Ciri Coelenterata

Reproduksi, Klasifikasi, Peranan dan Ciri-Ciri Coelenterata – Pada topik ini kalian akan belajar tentang filum Coelenterata. Pasti kalian pernah mendengar istilah hewan ubur-ubur kan? Nah, organisme yang cukup ditakuti oleh para perenang pantai ini merupakan salah satu anggota filum Coelenterata. Untuk mempelajarinya lebih lanjut, simak ulasan berikut.

Ciri-Ciri Coelenterata

Coelenterata berasal dari kata coilos (berongga) dan enteron (usus). Jadi, semua hewan yang termasuk dalam filum ini mempunyai rongga usus (gastrovaskular) yang berfungsi sebagai organ pencernaan. Tidak seperti Porifera, Coelenterata hanya memiliki satu lubang yang berfungsi sebagai mulut sekaligus anus. Coelenterata memiliki tubuh yang tersusun atas banyak sel, simetri radial atau biradial, tidak mempunyai kepala, atau ruas-ruas tubuh.

Dalam pergiliran keturunan, Coelenterata mempunyai dua tipe hidup atau bentuk tubuh, yaitu polip dan medusa. Fase polip terbentuk ketika Coelenterata hidup melekat pada suatu substrat dan tidak dapat berpindah tempat (sessil). Fase medusa terbentuk ketika Coelenterata hidup bebas berenang atau terapung di dalam air, hidup bebas berpindah tempat karena terbawa air (planktonik).

Tubuh Coelenterata terdiri atas 2 lapisan sel (jaringan), yaitu epidermis (bagian luar) dan gastrodermis/ endodermis (bagian dalam). Kedua jaringan tersebut dipisahkan oleh lapisan mesoglea yang berisi gelatin dan sel-sel syaraf. Pada epidermis terdapat sel knidosit yang mengandung racun penyengat (nematosit). Nematosit pada permukaan knidoblas ini berfungsi untuk membela diri (menyengat mangsa atau musuhnya) dan membantu menangkap makanan serta untuk bergerak dan melekat pada substrat.

Reproduksi Coelenterata

Coelenterata dapat berkembang secara aseksual dan seksual. Reproduksi secara aseksual dilakukan dengan cara membentuk tunas. Tunas tersebut kemudian lepas dari induknya dan berkembang menjadi individu baru. Reproduksi secara seksual dilakukan dengan cara membentuk sperma dan ovum yang melebur menjadi zigot, lalu tumbuh menjadi individu baru. Sebagian Coelenterata bersifat hermaprodit (sperma dan ovum dihasilkan oleh individu yang sama), tetapi juga ada yang gonochoris (sperma dihasilkan oleh individu yang terpisah dari individu penghasil ovum).

Klasifikasi Coelenterata

Coelenterata terdiri dari tiga kelas, yaitu sebagai berikut.

Kelas Hydrozoa

Hewan-hewan yang tergolong dalam kelas ini memiliki bentuk tubuh polip, hanya sebagian kecil yang berbentuk medusa dan hidupnya berkoloni. Habitat Hydrozoa di air tawar dan sebagian hidup di laut. Hewan ini, biasanya hidup menempel pada benda yang ada dalam air, misalnya tanaman air. Reproduksi aseksual Hydrozoa dilakukan dengan cara membentuk tunas, sedangkan reproduksi seksualnya dengan membentuk sperma dan ovum.

Sebagian besar Hydrozoa bersifat hermaprodit, meskipun ada yang gonochoris.

  • Hydra viridis (Hydra hijau): hidup soliter (tidak berkoloni) di air tawar, misalnya kolam atau sungai berarus tenang.
  • Hydra fusca (Hydra coklat)
  • Hydra attenuate (Hydra bening)
  • Obelia sp
    Obelia sp bentuknya mirip batang bercabang, merupakan koloni polip (polip vegetatif dan polip reproduktif). Polip vegetatif mempunyai hidroteka, sedangkan Obelia sp polip reproduktif mempunyai selaput yang disebut gonoteka. Obelia sp hidup di laut dan mengalami fase medusa. Polip reproduktif membentuk tunas medusa, kemudian tunas medusa lepas dan tumbuh menjadi medusa dewasa yang mampu membentuk sperma dan ovum. Jadi, Obelia sp mengalami metagenesis (pergantian keturunan) antara bentuk polip dan medusa.

Kelas Scyphozoa

Hewan-hewan dalam kelas ini memiliki bentuk tubuh seperti mangkuk terbalik dan berhabitat di laut. Fase medusa Scyphozoa lebih dominan dari pada polip dan sebagian besar bersifat gonochoris. Scyphozoa mempunyai kelenjar kelamin (gonade) yang terdapat dalam kantung-kantung ruang gastrikum, contohnya Aurelia aurita (ubur-ubur). Dalam hidupnya Aurelia aurita mengalami pergiliran keturunan antara fase polip dan medusa. Aurelia dewasa merupakan fase medusa. Aurelia aurita jantan menghasilkan sperma dan Aurelia aurita betina menghasilkan ovum.

Jika sperma membuahi ovum, akan terbentuk zigot. Selanjutnya zigot membelah berkali-kali membentuk sekumpulan sel berbentuk bola yang dinamakan blastula. Blastula akan tumbuh menjadi larva bersilia (planula). Larva ini akan menetap menjadi polip saat menemukan tempat yang sesuai. Polip tumbuh semakin besar dan diikuti pembentukan kuncup-kuncup baru (strobilasi). Kuncup-kuncup tersebut selanjutnya lepas satu per satu ke air menjadi efira dan efira menjadi medusa muda. Akhirnya, medusa muda akan tumbuh menjadi medusa dewasa. Untuk memahami siklus hidup Aurelia aurita, perhatikan gambar di bawah ini.

section-media

Kelas Anthozoa

Kelas ini memiliki anggota yang meliputi hewan-hewan karang dan anemone laut. Bentuk tubuh yang lebih dominan adalah polip. Anthozoa merupakan pembentuk batu karang di laut. Hewan-hewan ini tidak bertangkai, biasanya terbungkus skeleton eksternal yang disebut karang. Batu karang tumbuh dengan baik di perairan tropik bersuhu hangat (20o C atau lebih). Anthozoa mempunyai tentakel yang terdapat di sekitar mulut. Mulutnya memanjang, bermuara di dalam tabung yang disebut stomodeum.

Stomodeum memanjang memasuki rongga gastrovaskular yang terbagi menjadi beberapa ruang kompartemen oleh pembatas vertikal (mesenteri). Hewan-hewan dalam kelas ini memiliki rongga diploblastik, hidup di air (tawar, laut), bersifat hermaprodit atau gonochoris, contoh: Fungia sp, Acrophora sp, Stylophora sp, Euplexaura antipathies (akar bahar), dan Meandrina sp.

Peranan Coelenterata bagi kehidupan

Batu karang disusun oleh hewan-hewan Coelenterata dalam kelas Anthozoa. Pertumbuhan batu karang di pantai dapat menahan abrasi daratan oleh ombak yang kuat. Selain itu, batu karang merupakan tempat perkembangbiakan biota laut, bahkan pembentuk taman laut yang sangat penting bagi pengembangan objek wisata bahari. Namun, pertumbuhannya di laut lepas dapat menyebabkan pendangkalan air laut yang mengganggu dan membahayakan pelayaran kapal.

Penduduk sekitar pantai biasanya memanfaatkan karang laut sebagai cinderamata, pembuatan taman, atau mengambil batu karang sebagai bahan bangunan dan hiasan. Sengat berupa racun yang dihasilkan oleh hewan Hydrozoa, contohnya ubur-ubur dapat mengganggu kenyamanan dan keamanan para penyelam.

Please rate this

Leave a Reply

Your email address will not be published.