Thu. Feb 9th, 2023
Fitur Bahasa, Definisi dan Struktur Teks Eksemplum

Fitur Bahasa, Definisi dan Struktur Teks Eksemplum – Kawan-kawan pernah dengar peribahasa yang berbunyi “pengalaman adalah guru yang terbaik”? Menurut kalian, apa sih artinya? Guru kan manusia ya, sedangkan pengalaman kan sifatnya abstrak.

Fitur Bahasa, Definisi dan Struktur Teks Eksemplum
Fitur Bahasa, Definisi dan Struktur Teks Eksemplum

– Pengalaman (Kata beda) berasal dari kata alam yang artinya yang pernah dialami atau dirasai.
– Guru (Kata Benda) mengandung arti orang yang mengajarkan sesuatu.

Fitur Bahasa Teks Eksemplum

Jadi peribahasa pengalaman adalah guru yang terbaik itu berarti hal yang kita pernah alami itu bisa mengajarkan hikmah yang baik kepada kita atau orang lain. Ya, kejadian yang kita alami dapat dipetik hikmahnya oleh orang lain kalau kita menceritakan lagi dengan tepat. Maka dari itu, pelajaran kali ini berhubungan dengan menceritakan kembali pengalaman dengan bahasa yang tepat. Caranya bagaimana? Tentu saja kita harus mengetahui dulu ciri-ciri kebahasaan yang sering muncul dalam sebuah teks eksemplum, yakni teks yang berisikan kisah pengalaman itu sendiri.

Sebetulnya banyak sekali unsur-unsur kebahasaan yang dapat dibedah dari sebuah teks eksemplum. Namun, pada kesempatan kali ini, kita pelajari dua saja.

1. Kata Keterangan
Pernah mempelajari pola kalimat? Dalam sebuah pola kalimat ada yang disebut dengan kata keterangan atau disebut juga adverbia. Kata keterangan adalah kata yang menjelaskan kata kerja, kata sifat, atau kata keterangan lainnya. Ada banyak sekali jenis kata keterangan seperti keterangan tempat, keterangan waktu, keterangan tujuan, dan keterangan cara.

Dalam sebuah teks eksemplum, kata keterangan berfungsi untuk menghidupkan suasana yang ada dalam gambaran cerita. Selain itu, kata keterangan dalam teks eksemplum pun berfungsi untuk mengurutkan cerita.
Perhatikan contoh kalimat berikut ini:
a. Pada waktu sedang menunggu teman saya di pelataran masjid, tiba-tiba sebuah genteng jatuh tepat di hadapan saya.
b. Pada saat kelulusan SMA, aku sudah diterima di salah satu perguruan tinggi di Bogor.
c. Sebetulnya aku malas melakukan perbuatan itu bersamanya. Namun, hal itu aku lakukan untuk menjahilinya agar dia kapok.
d. Karena tidak juga terbuka, aku putuskan menjebol pintu kamarku dengan mendobraknya.
Dari empat petikan teks eksemplum di atas, terdapat penanda fitur bahasa yang menegaskan bahwa gabungan kata tersebut termasuk keterangan.
Pertama, penggunaan kata keterangan tempat bisa ditandai dengan kata depan di, seperti terlihat pada frasa di pelataran masjid. Kata keterangan tempat pun bisa ditandai dengan kata ke, dari, atau nama daerah.
Kedua, penggunaan kata keterangan waktu bisa ditandai dengan kata depan pada, seperti nampak pada frasa pada saat kelulusan SMA. Kata keterangan waktu pun biasanya melekati kata-kata yang menandakan waktu seperti tahun, bulan, jam, rentang waktu, atau hari.
Ketiga, penggunaan kata keterangan tujuan bisa ditandai dengan kata yang menunjukan maksud seperti kata untuk pada frasa untuk menjahilinya.
Keempat, penggunaan kata keterangan cara bisa ditandai dengan kata yang menunjukan cara melakukan seperti kata dengan pada frasa dengan mendobraknya.

2. Kata Penghubung
Kata penghubung atau konjungsi adalah kata atau ungkapan yang dapat menghubungkan antarkata, antarfrasa, antarklausa, dan antarkalimat. Dalam sebuah teks eksemplum, kata penghubung berfungsi untuk memperlihatkan makna kejadian yang dialami oleh pelaku peristiwa.

Perhatikan contoh kalimat berikut ini:
a. Aku spontan saja berkelit dari percikan kaca depan itu, sedangkan ibuku terlambat menghindarinya.
b. Orang-orang segera mengerumuni mobil kami yang penyok. Kemudian, beberapa di antara mereka cepat-cepat membawa kami ke rumah sakit.
Dari dua petikan teks eksemplum di atas, terdapat penanda fitur bahasa yang menegaskan bahwa kalimat tersebut mengandung kata penghubung.
Pertama, penggunaan kata penghubung intrakalimat yang menggabungkan lebih dari satu klausa dalam satu kalimat. Selain kata sedangkan, ada lagi kata penghubung intrakalimat lain seperti dan, tetapi, atau, dan karena.
Kedua, penggunaan kata penghubung antarkalimat yang menggabungkan lebih dari satu kalimat, antara lain adalah kemudian, walaupun, oleh sebab itu, dan dengan demikian.

Mari Berlatih Menganalisis Teks Berikut Ini

 

Penjelasan:
– Kata-kata yang ditandai dengan warna biru merupakan kata yang termasuk kata keterangan, baik tempat, waktu, cara, ataupun tujuan.
– Kata-kata yang ditandai dengan warna ungu merupakan kata yang termasuk kata penghubung, baik intrakalimat maupun antarkalimat.

Bagaimana banyak bukan? Silakan baca kembali teks di atas, mungkin saja kalian masih bisa menemukan fitur bahasa teks eksemplum yang lain.

Kawan pernahkah kalian mengalami sebuah kejadian yang sangat tidak enak? Bahkan, kejadian yang menimpa kalian itu hamper saja mencelakakan. Padahal menurut kalian, peristiwa itu sebetulnya bisa saja dihindari, hanya saja kalian seolah tidak punya kekuatan untuk menghindarinya.

Aneh ya? Misalnya saja, kalian bermain skateboard di pelataran parkir. Kalian menganggap kegiatan tersebut menyenangkan. Tidak ada sedikitpun perkiraan bahwa bermain skateboard di pelataran parkir membahayakan. Namun, di tengah-tengah kalian sedang asyik berlatih skateboard, tiba-tiba ada burung liar mengenai wajah kalian yang mengakibatkan kalian kehilangan konsentrasi dan terjatuh. Di saat itulah kalian menyadari betapa kecelakaan bisa terjadi di mana saja, sehingga kalian dapat menyimpulkan bahwa saat bermain pun kita harus tetap waspada dan konsentrasi.

Begitulah kiranya gambaran materi kali ini. Ya, materi kita kali ini mengenai teks eksemplum. Hmmm… pernah dengar mengenai teks eksemplum? Mari kita kenali lebih dalam lagi. Sebelum menjawabnya, coba kalian simpulkan apersepsi di atas, kira-kira apa inti cerita di awal pelajaran? Ya, betul sekali, mengenai sebuah insiden buruk yang menurut kita tidak seharusnya tidak perlu dialami. Nah, dari persitiwa itu kita mendapat hikmahnya.

Jadi, secara umum, teks eksemplum adalah sebuah teks naratif yang menceritakan sebuah kejadian buruk yang dialami penulisnya, tetapi menurut penulisnya kejadian itu tidak seharusnya terjadi. Dalam teks tersebut digambarkan juga keinginan sang penulis atau tokoh yang diceritakan dalam teks agar kejadian buruk itu tidak menimpanya, hanya saja sang penulis atau tokoh yang diceritakan tidak bisa menghindar dari kejadian buruk tersebut.

Oya, dalam teks eksemplum juga terdapat amanat yang berupa hikmah di balik kejadian. Selain itu, teks eksemplum pun dapat dikenali dari ciri-ciri yang sering muncul dalam teks, seperti peristiwa yang dikisahkan merupakan peristiwa yang jarang terjadi, peristiwa yang dialami menimbulkan perasaan sadar diri bagi pelaku, serta urutan penjelasan peristiwanya runtut dan terperinci.

Mengenai urutan penjelasan peristiwa yang runtut ini, teks eksemplum dikenali dengan struktur yang membangunnya yakni:

1. Abstrak
Abstrak seringkali berupa garis besar cerita yang berupa pengantar peristiwa utuhnya. Dalam bagian ini, penulis hendak menegaskan peristiwa yang tidak akan dilupakan seumur hidupnya.

2. Orientasi
Orientasi adalah bagian awal cerita. Terkadang dalam orientasi diceritakan tempat kejadian dan waktu kejadian.

3. Insiden
Insiden berupa gambaran peristiwa yang dialami sang tokoh yang dianggap seharusnya tidak terjadi, tetapi tak bisa dihindari. Dalam bagian ini juga diuraikan sebab dan akibat persitiwa itu bergulir.

4. Interpretasi
Pada bagian interpretasi, penulis mengambil peran lebih banyak dengan memasukkan pendapatnya dalam teks. Dalam bagian ini penulis menafsirkan pesan-pesan hikmah dari kejadian yang telah terjadi tersebut.

5. Koda
Sebagaimana struktur jenis teks narasi lain, bagian koda dibuat sebagai pamungkas cerita yang isinya biasanya simpulan atau akhir cerita.
Selain struktur tersebut ada juga yang meringkas struktur teks eksemplum menjadi berikut ini.

Agar lebih kenal lagi mengenai teks eksemplum mari kita perhatikan tabel bagian per bagian struktur yang lengkap dari teks eksemplum berikut ini.


Poin Penting

Dalam teks eksemplum, terkadang penulis berperan sebagai pelaku cerita. Akan tetapi, pada bagian interpretasi penulis seringkali mengajak pembaca untuk berperan sebagai pelaku. Hal ini dilakukan agar nilai-nilai hikmah yang diinterpretasikan bisa sampai ke pembaca.

By Mimin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *