Metode Perhitungan Persediaan Barang pada Perusahaan Dagang

By | November 22, 2020
Metode Perhitungan Persediaan Barang pada Perusahaan Dagang

Metode Perhitungan Persediaan Barang pada Perusahaan Dagang

Metode Perhitungan Persediaan Barang pada Perusahaan Dagang

Metode Perhitungan Persediaan Barang pada Perusahaan Dagang – Dalam laporan keuangan perusahaan dagang ada banyak hal yang harus kita ketahui sebelum membuatnya. Laporan keuangan perusahaan dagang berbeda sedikit dengan laporan keuangan perusahaan jasa. Tidak semua akun yang ada di perusahaan jasa berada di perusahaan dagang juga. Bagaimana perhitungan dari perusahaan dagang? Apa saja yang harus dilakukan sebelum membuat perhitungannya? Untuk lebih jelas mengenai perhitunganya mari kita simak materi berikut ini.

Definisi Perusahaan Dagang

Perusahaan dagang adalah badan usaha yang memperoleh keuntungan dari penjualan kembali barang-barang dengan menetapkan margin keuntungan yang dapat menjaga kesinambungan operasional perusahaan. Persediaan dalam sebuah perusahaan dagang diartikan sebagai barang-barang yang dimiliki oleh perusahaan pada suatu masa dengan maksud untuk dijual kembali baik secara langsung maupun melalui proses produksi dalam sebuah siklus operasional. Berdasarkan jenis usahanya, persediaan dapat dikelompokkan menjadi beberapa bagian, yaitu :

1. Persediaan yang dimiliki perusahaan dagang, persediaan jenis ini dikategorikan sebagai persediaan barang dagang.

2. Persediaan yang dimiliki perusahaan industri.

Perusahaan industri melakukan proses untuk mengubah bahan–bahan menjadi produk jadi. Persediaan dalam perusahaan industri dibagi menjadi tiga bagian, yaitu persediaan bahan baku dan pembantu, persediaan barang dalam proses dan persediaan barang jadi atau produk.

Persediaan dalam sebuah perusahaan dagang harus dicatat dan dilaporkan sebesar harga perolehannya. Hal ini bersifat prinsip karena dengan mengetahui nilai persediaan maka penyusunan laporan keuangan perusahaan dapat dilakukan.

Pencatatan dan Metode Perhitungan

Dalam akuntansi perusahaan dagang, dikenal 2 jenis sistem pencatatan persediaan, yaitu :

1. Sistem Perpetual

Sistem ini mencatat pembelian setiap hari terhadap barang dagangan. Nilai persediaan barang akan dimasukkan ke dalam akun persediaan barang dan pada saat terjadi transaksi maka akan secara otomatis mengurangi barang tersebut yaitu dengan menghitung nilai pokok penjualan secara langsung. Kelebihan dari metode ini adalah sewaktu–waktu nilai persediaan dapat diketahui, begitu juga dengan laporan laba rugi tanpa harus menunggu akhir periode.

Dalam sistem ini terdapat satu catatan tersendiri yang disebut kartu stok atau kartu persediaan (stock card). Kumpulan dari kartu stok, untuk semua jenis barang yang ada disebut buku stok atau buku persediaan. Kartu stok mencatat detail seperti penambahan, pengurangan dan saldo yang ada setelah terjadinya suatu transaksi. Tiap transaksi dicatat kuantitas barangnya, harga pokok/unit jumlah nilainya, Penambahan dalam kartu stok biasanya berasal dari pembelian barang dagang. Di samping pembelian, penambahan dalam kartu stok juga dapat berasal dari penjualan retur. Pengurangan dalam kartu stok, pada umumnya berasal dari penjualan barang dagang. Pengurangan dapat juga terjadi dari pembelian retur.

2. Sistem Periodik

Sistem ini tidak mencatat nilai persediaan secara rutin, bahkan terkadang hanya mencatat nilai persediaan akhir pada akhir periode akuntansi melalui stok opname. Sistem ini mencatat transaksi pembelian ke dalam akun pembelian, sehingga dalam pencatatan laporan laba rugi nilai pembelian akan dicatat sebagai pengurang penjualan atau pendapatan.
Metode yang umum digunakan dalam pencatatan persediaan akhir antara lain :

a. Metode FIFO (First in First Out), metode ini mencatat persediaan akhir dengan sistem barang yang lebih awal masuk yang dikeluarkan pertama kali sehingga saldo akhir persediaan menunjukkan barang yang dibeli terakhir.

b. Metode LIFO (Last in First Out), metode ini mencatat persediaan akhir dengan sistem barang yang lebih akhir masuk yang dikeluarkan pertama kali sehingga saldo akhir persediaan ini menunjukkan barang yang dibeli terawal.

c. Metode Rata-rata (Average), metode ini mencatat persediaan akhir dengan menghitung rata-rata barang yang tersedia dengan harga rata-rata dari setiap pembelian yang dilakukan.

Metode penghitungan persediaan akhir ini dapat dilihat dalam contoh soal berikut :

Perusahaan mencatat persediaan barang dagang dengan Metode Periodik (Fisik). Berikut ini adalah data yang diperoleh selama bulan April 2014 :
Tgl 01 April : Persediaan Awal 200 unit @ Rp900,-
Tgl 10 April : Pembelian 300 unit @ Rp1.000,-
Tgl 21 April : Pembelian 400 unit @ Rp1.100,-
Tgl 23 April : Pembelian 100 unit @ Rp1.200,-
Pada tanggal 30 April 2014 Persediaan Akhir sebanyak 300 unit. Berapa nilai akhir persediaan barang pada 30 April 2014 ? Berapa Nilai HPP sebelum bulan Maret 2014 ?
Jawaban :
01 April : Persediaan Awal 200 unit @ Rp900,- = Rp180.000,-
10 April : Pembelian 300 unit @ Rp1.000,- = Rp300.000,-
21 April : Pembelian 400 unit @ Rp1.100,- = Rp440.000,-
23 April : Pembelian 100 unit @ Rp1.200,- = Rp120.000,-
Total 1.000 unit @ Rp4.200,- = Rp1.040.000,-

Persediaan yang terjual akhir periode = 1.000 unit – 300 unit = 700 unit

section-media
  1. Metode Average

Persediaan akhir = 300 X Rp1.040.000,-/1.000

              = 300 X 1.040
Nilai Persediaan akhir = Rp312.000,-

HPP = BTUD – Persediaan Akhir
= Rp1.040.000,- – Rp312.000,-
= Rp728.000,-

RANGKUMAN

1) Perusahaan dagang adalah badan usaha yang memperoleh keuntungan dari penjualan kembali barang-barang dengan menetapkan margin keuntungan yang dapat menjaga kesinambungan operasional perusahaan.
2) Metode yang umum digunakan dalam pencatatan persediaan akhir antara lain :
Metode FIFO (First in First Out).
Metode LIFO (Last in First Out).
Metode Rata-rata (Average).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *