Menyunting Struktur, Kaidah, dan Isi Penggalan Novel

By | June 2, 2020

Menyunting Struktur, Kaidah, dan Isi Penggalan Novel – Penyuntingan perlu dilakukan setelah proses menulis selesai. Kita tidak bisa memastikan bahwa sebuah tulisan sudah dapat dikatakan baik jika belum dibaca dan diperiksa kembali. Saat menulis, kita bisa saja tidak selalu fokus dengan tulisan kita. Kesalahan penulisan seperti ejaan dan penggunaan tanda baca sering sekali terjadi. Oleh karena itu, agar tulisan kita benar berdasarkan kaidah-kaidah bahasa, kita perlu memeriksanya kembali.

Menyunting Struktur, Kaidah, dan Isi Penggalan Novel

Menyunting Struktur, Kaidah, dan Isi Penggalan Novel

Hal yang paling utama dalam proses menyunting adalah memerhatikan tata bahasa yang meliputi ejaan, penggunaan tanda baca yang benar, pemilihan kata atau diksi, penggunaan kalimat yang padu, dan sistematika penulisan. Penggunaan bahasa dalam cerita fiksi pun perlu diperhatikan. Apalagi hal ini ditentukan oleh kreasi pengarang. Kita perlu memikirkan keunikan atau ciri khas pengarang dalam menulis dan berhati-hati dengan bahasa yang digunakannya. Kita juga perlu melihat zaman saat karya tersebut ditulis. Kita bisa membandingkan bahasa dalam novel Sitti Nurbaya yang ditulis oleh Marah Rusli pada tahun 1920-an dengan novel populer saat ini, seperti Laskar Pelangi atau novel-novel karangan Tere Liye.

Di samping itu, kita perlu memahami konsep atau pembahasan yang ditulis oleh pengarang. Misalnya, pengarang menuliskan tentang tragedi tsunami di Indonesia. Kita yang diberikan kesempatan untuk menyunting tulisan pengarang tersebut tentu perlu memahami tragedi tsunami itu. Apalagi hasil akhir sebuah tulisan tidak terletak pada pengarang atau penulis tetapi ada di tangan seorang penyunting, yang dikenal dengan sebutan editor.

Pada topik kali ini, kita akan kembali belajar menyunting tetapi pada jenis teks yang berbeda. Teks yang akan kita sunting atau edit ini merupakan teks penggalan novel yang merupakan jenis cerita fiksi. Ketika hendak menyunting, kita perlu mengingat kembali struktur dalam novel sebagai cerita fiksi. Selain itu, kaidah kebahasaan dalam novel perlu diperhatikan kembali dengan baik.

Sebagai contoh, kita dapat mulai dengan memerhatikan teks berikut ini.

Maka pada malam itu kuambil putusan tidak akan bertemu lagi dengan Rusli juga Kartini. Bergaul dan merapati mereka, terlalu berbahaya bagiku. Lenyaplah sudah segala angan-angan dan niatku tadi untuk mencoba meyakini kedua orang itu untuk menempuh jalan agama yang benar. Cita itu telah kukesampingkan. Aku hanya akan mendoa saja diam-diam dari jauh. Aku hanya boleh memperbanyak ibadatku saja untuk mereka. (Atheis, Achdiat K. Mihardja)

Perhatikanlah penggalan teks novel tersebut, adakah bagian teks yang perlu diperbaiki?

Kita perhatikan dengan keterpaduan kalimat-kalimat saat dibaca. Saat proses membaca itu, kita akan menemukan kalimat yang tidak disusun dengan baik karena ada pemilihan kata yang kurang tepat, seperti pada penggalan teks tersebut.

Pada kalimat pertama, penggunakan kata juga sebagai kata keterangan kurang tepat untuk digunakan. Kata tersebut perlu diganti dengan kata penghubung dan yang digunakan untuk menunjukkan hubungan penambahan. Selain itu, kata meyakini diperbaiki menjadi meyakinkan. Kata meyakini hanya memiliki pengertian yakin, benar akan sesuatu hal. Adapun meyakinkan memiliki pengertian untuk menjadikan (menyebabkan dsb) yakin. Pada kalimat, tokoh ingin membuat orang lain yakin terhadap jalan agama. Jadi, penggunaan kata meyakinkan jauh lebih tepat.

Di samping itu, kata cita kurang tepat untuk melengkapi kalimat Cita itu telah kukesampingkan. Jika kata cita yang digunakan, maka pengertiannya hanya mencakup rasa; perasaan hati. Namun, jika cita diubah menjadi cita-cita, maka pengertiannya menjadi keinginan (kehendak) yang selalu ada di pikiran. Tokoh memiliki cita-cita untuk meyakinkan orang lain untuk berada di jalan agama tetapi dikesampingkannya. Hal ini dapat lebih dipahami dalam konteks kalimatnya.

Kata terakhir, yaitu boleh diganti menjadi akan. Penggunaan kata akan lebih sesuai untuk menunjukkan maksud tokoh yang ingin memperbanyak ibadatnya untuk orang lain. Penggunaan kata boleh seakan-akan tokoh meminta persetujuan tentang suatu hal kepada seseorang.

Melalui sedikit gambaran umum tersebut, kita dapat melihat bahwa proses penyuntingan dapat dilakukan dengan memperbaiki kesalahan-kesalahan penulisan. Selain itu, kelogisan setiap kalimat dan susunannya menjadi sebuah paragraf/penggalan perlu diperhatikan pula dengan baik. Proses menyunting pun memerlukan ketelitian dan konsentrasi membaca yang baik.

Poin Penting

1. Hal utama yang perlu diperhatikan saat menyunting adalah ketentuan tata bahasa yang meliputi ejaan, penggunaan tanda baca, pemilihan kata atau diksi, penggunaan kalimat yang padu, sistematika penulisan, dan penggunaan bahasa pengarang.
2. Penyuntingann memerlukan ketelitian dan konsentrasi membaca yang baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *