Mengonversi Teks Editorial atau Opini ke dalam Teks Anekdot

By | June 2, 2020

Mengonversi Teks Editorial atau Opini ke dalam Teks Anekdot – Siswa mengonversi teks Editorial/Opini ke dalam bentuk yang lain sesuai dengan struktur dan kaidah teks, baik secara lisan maupun tulisan, yaitu ke dalam teks anekdot.

Mengonversi Teks Editorial atau Opini ke dalam Teks Anekdot

Mengonversi Teks Editorial atau Opini ke dalam Teks Anekdot

Hampir setiap orang menyukai sesuatu yang bersifat lucu. Karena itu, mereka menyenangi cerita-cerita jenaka. Tidak semua cerita jenaka hanya berkisah mengenai hal-hal remeh yang tidak bermanfaat. Tahukah kamu bahwa kejenakaan ternyata bisa menjadi salah satu sarana untuk menyindir atau mengkritik sesuatu yang salah? Ya, dengan anekdot hal itu bisa saja terjadi. Apabila pada topik sebelumnya kita belajar tentang cara mengonversi teks editorial/opini menjadi teks monolog, pada topik ini kita akan belajar mengonversi menjadi teks anekdot. Mari berkenalan dengan teks anekdot.

Kritik Sosial dalam Bingkai Anekdot

Teks editorial yang dimuat di media cetak, seperti koran atau majalah, biasanya ditulis menggunakan bahasa baku dan bersifat terus terang. Keterus-terangan dalam teks editorial merujuk pada pernyataan-pernyataan yang menerangkan permasalahan secara langsung. Karena itu, pembaca menjadi lebih mudah mengetahui maksud yang terkandung di balik teks.

Teks anekdot adalah teks yang bersifat lucu, mengisahkan tentang kehidupan seseorang atau peristiwa tertentu yang dianggap penting. Tujuan penulisan teks anekdot adalah untuk menghibur. Meskipun begitu, anekdot pada umumnya mengangkat tema-tema yang bersifat ironi. Karena itulah, kita sering menemui teks anekdot yang ditulis menggunakan bahasa sindiran, perumpamaan, atau simbolisme. Teks anekdot juga sering dipakai untuk menunjukkan kritik sosial.

Suatu teks editorial/opini dapat dikonversi menjadi teks anekdot. Caranya adalah membubuhinya dengan kejenakaan. Kejenakaan menjadi ciri paling menonjol dari teks anekdot yang dipakai untuk menceritakan tentang hal-hal menarik yang dialami tokoh. Perhatikanlah perbedaan dua teks berikut ini!

Perhatikan contoh

Contoh teks editorial
Akreditasi menjadi menjadi perhatian setiap program studi di universitas. Semakin akreditasi yang diperoleh itu baik, maka semakin besar pula kemungkinan untuk diminati. Salah satu kriteria yang harus dipenuhi agar akreditasi mecapai angka maksimal adalah mutu lulusan yang baik. Perolehan indeks prestasi (IP) mahasiswa yang didukung dengan masa studi yang normal menjadi bagian kecil dari kualitas lulusan. Karena itu, pihak fakultas tidak henti-hentinya menyeru kepada para mahasiswa yang belum menuntaskan studinya melebihi waktu normal untuk segera lulus.

Contoh teks editorial yang dikonversi menjadi teks anekdot
Kami sebagai bagian dari program studi di universitas ini selalu berusaha menjadi idola di antara para calon mahasiswa baru. Karena itu, kami selalu memperhatikan perkembangan akreditasi. Hal itu kami lakukan mengingat perolehan akreditasi yang baik akan membuka peluang para calon mahasiswa untuk mendaftarkan diri. Adapun salah satu kriteria yang harus kami penuhi agar akreditasi semakin menarik minat para calon mahasiswa baru adalah kualitas lulusan yang baik. Tentu saja, kami sebagai idola harus didukung dengan hal-hal yang baik. Misalnya saja, kami harus memiliki daftar indeks prestasi (IP) tinggi dari mahasiswa lama yang seimbang dengan masa studi mereka. Jadi, jangan terlalu heran bila kami tidak henti-hentinya menyeru kepada setiap Mapala, mahasiswa paling lama, untuk menuntaskan masa studinya.

Ada beberapa perbedaan yang dapat ditemukan pada teks editorial dan teks anekdot di atas. Pada teks anekdot, yang merupakan hasil konversi dari teks editorial, terdapat perumpamaan. Program studi memposisikan dirinya seumpama seorang idola. Ia sebagai idola mencoba untuk menjaga kualitas diri dengan memperhatikan indeks prestasi dan masa studi para mahasiswa guna menunjang akreditasi yang baik.

Selain itu, pada teks anekdot juga terkandung kejenakaan. Hal itu terlihat dengan adanya pemakaian istilah “Mapala” yang merupakan singkatan dari ‘mahasiswa paling lama’. Penulis sengaja memelesetkan singkatan Mapala yang seharusnya mahasiswa pecinta alam untuk tujuan menghibur sekaligus menyindir.

Poin Penting

1. Kegiatan mengonversi teks dapat dilakukan dengan mengubah bentuk teks tanpa mengubah struktur dan inti teks.
2. Teks anekdot adalah teks yang mengandung kelucuan dan bersifat menghibur.
3. Teks editorial/opini dapat dikonversikan menjadi teks anekdot dengan menambahkan unsur jenaka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *