Karakteristik dan Cara Membuat Abstraksi Teks Pantun

By | June 4, 2020

Karakteristik dan Cara Membuat Abstraksi Teks Pantun – Sudah saatnya bagi kalian untuk me-review segala materi pantun yang telah kita pelajari pada materi-materi sebelumnya. Kita telah mempelajari struktur, ciri-ciri bahasa, dan menyunting isi pantun. Dari materi-materi tersebut kita bisa memahami karakteristik yang dimiliki pantun.

Karakteristik dan Cara Membuat Abstraksi Teks Pantun

Karakteristik dan Cara Membuat Abstraksi Teks Pantun

Karakteristik dapat dipahami juga sebagai ciri-ciri yang muncul dalam pantun, baik dari segi struktur, rima, dan bahasa. Pantun adalah bagian dari puisi lama yang berdasarkan sejarahnya, dibukukan pertama kali oleh sastrawan Melayu yang bernama Haji Ibrahim Datuk Kaya Muda Riau. Untuk membedakan pantun dengan jenis puisi lama yang banyak macamnya, pemahaman karakteristik pantun murni diperlukan.

Perhatikan contoh berikut

Teks 1
Hai muda arif budiman
Hasilkan kemudi dengan pedoman
Alat perahumu jua kerjakan
Itulah jalan membetuli insan

Teks 2

Katakan padaku bahwa bulan itu yang membuatmu cemburu
Ketika hampir setiap malam aku duduk di beranda rumah orang tuamu yang juga mertuaku
Mencipta puisi sambil menatapi bulan sementara kau pulas tertidur, lalu
Katakan padaku benarkah bulan itu yang membuatmu cemburu?

Teks 3

Dalam puisi terdapat kata
Dalam pikir terdapat akal
Jangan cepat katakan cinta
Sebelum kita benar mengenal

Sebuah pantun haruslah memiliki empat baris dalam satu bait. Baris 1 dan 2 disebut sampiran dan baris 3 dan 4 disebut isi dengan 8 – 12 suku kata pada setiap baris agar tercipta ritme yang tepat dan enak dibaca. Pantun pun harus memiliki rima bersilang, yaitu a-b-a-b . Berdasarkan karakteristik tersebut, teks yang termasuk ke dalam pantun adalah teks 3. Teks 1 memang mengandung beberapa diksi yang sudah jarang digunakan seperti kata jua yang tampak sebagai puisi lama, tetapi teks tersebut tidak memiliki sampiran dan berima a-a-a-a. Itu adalah ciri syair yang saya ambil dari syair Hamzah Fansuri berjudul “Syair Perahu”, sedangkan pada teks 2, walau sama-sama empat baris dan berima a-a-a-a , tidak dapat disebut syair ataupun pantun. itu adalah bentuk puisi modern karya Irfan Sulistya. Hal ini terlihat dari jumlah suku kata yang terlalu banyak sebagai ciri kebebasan struktur pada puisi modern.

Selain pantun, terdapat jenis puisi lama yang mirip dengan pantun yaitu sama-sama memiliki sampiran dan isi, tetapi lebiih singkat karena hanya memiliki dua baris. Puisi lama tersebut disebut karmina. Ini pun harus dibedakan dengan pantun karena karakteristik pantun yang empat baris, sedangkan karmina hanya dua baris.

Poin Penting

Pantun memiliki karakteristik sebagai berikut.
1. Satu bait terdiri atas empat baris
2. Baris 1 dan 2 disebut sampiran
3. Baris 3 dan 4 disebut isi
4. Berjumlah 8 – 12 suku kata pada tiap baris.

Membuat Abstraksi Teks Pantun

Pada pelajaran sebelumnya, kita telah mengetahui langkah-langkah menganalisis teks pantun. Baik menganalisis isi teks pantun maupun menganalisis bahasa teks pantun. Abstrak merupakan ikhtisar atau inti dari sebuah teks. Mengabstraksi teks berarti kegiatan merumuskan kembali suatu teks menjadi teks baru yang lebih ringkas.

Dalam sebuah teks pantun, abstraksi disusun berdasarkan kata-kata kunci atau gagasan utama yang ada pada larik-larik isi. Terkadang, kata-kata kunci ini bermakna konotatif (mempunyai makna tautan) dan sudah tidak lazim digunakan. Dengan demikian, ketika kita akan membuat suatu abstraksi teks pantun, perhatikanlah larik ketiga dan keempat dari pantun tersebut, karena di situlah letak isi pantun, yang biasanya mengungkapkan suatu perasaan tertentu.

Hanya penting untuk diperhatikan, langkah-langkah mengabstraksi pantun tidak selalu sama dengan merangkum begitu saja, seperti dalam bentukan teks lain. Dalam mengabstraksi pantun, kita bisa jadi menambah jumlah kata dalam bagian isi. Hal itu terjadi seperti halnya kita memparafrasekan puisi. Bagaimanapun, pantun adalah salah satu jenis puisi lama juga. Sehingga, hal itu berkenaan agar makna inti dalam bagian isi tersebut menjadi lebih bisa dipahami. Setelah kalimat parafrase diperoleh, baru kita meringkas lagi sesuai dengan makna inti yang muncul. Agar lebih paham, mari kita lakukan langkah-langkah pengabstraksian pantun seperti berikut:

Perhatikan!

Perhatikan pantun berikut!

Pisang emas bawa berlayar
Masak sebiji di atas peti
Utang emas dapat dibayar
Utang budi dibawa mati

Langkah-langkah mengabstraksi teks pantun adalah sebagai berikut.

1. Baca larik ketiga dan keempat
Bacalah larik ketiga dan keempat dalam pantun di atas secara mendalam. Larik-larik tersebut adalah bagian isi dalam pantun yang mengungkapkan maksud tertentu.
Tapi ingat, untuk memahami sebuah pantun yang baik, kita tidak langsung begitu saja membuang bagian sampiran. Baca dulu bagian sampiran agar kita lebih yakin dalam memahami pantun itu secara keseluruhan. Bagian sampiran pun terkadang berhubungan dengan untaian makna sebuah pantun.
Contoh:
(3) Utang emas dapat dibayar
(4) Utang budi dibawa mati

2. Inventarisasi kata-kata arkais/konotatif
Garis bawahi kata-kata kunci yang terdapat dalam larik ketiga dan keempat dari pantun tersebut. Kemudian, cari padanannya dengan bahasa yang lebih sederhana.
Pada langkah kedua ini, proses pemparafrasean dapat dilakukan. Parafrase itu semacam pengungkapan kembali konsep awal puisi ke dalam bahasa yang sama, namun tidak mengubah maknanya. Memparafrasekan puisi memungkinkan kita memberi penekanan yang agak berlainan dengan versi asli puisi tersebut.
Contoh:
(3) Utang emas dapat dibayar = Jika kita berhutang emas, tentu di kemudian hari bisa dibayar kembali = utang materi dibayar materi
(4) Utang budi dibawa mati = Tetapi, jika kita berhutang budi, sulit untuk membayarnya sehingga dapat dibawa samapi mati = utang budi tidak dibayar materi

3. Membuat reproduksi
Susunlah maksud dari isi pantun tersebut secara sistematis dalam bentuk kalimat baru yang lebih jelas dan ringkas.
Langkah terakhir ini adalah menyatukan hasil pengambilan makna dari parafrase. Di langkah kedua kita sudah menentukan dua kalimat bermakna inti dari larik ketiga dan keempat. Nah, di langkah terakhir ini barulah kita bisa meringkas dua kalimat itu menjadi satu kalimat saja.

Contoh:
Kalimat 1: utang materi dibayar materi
Kalimat 2: utang budi tidak dibayar materi
Hasil Abstraksi: “Utang budi tidak dapat dibayar dengan materi.”

Poin penting

• Pantun merupakan bentuk puisi asli Indonesia. Pada hakikatnya, pantun adalah peribahasa sindiran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *