Kata Ganti Orang dan Majas Sebagai Ciri Bahasa Cerpen

By | April 8, 2020

Kata Ganti Orang dan Majas Sebagai Ciri Bahasa Cerpen – Sebagai bagian dari bentuk teks naratif (pengisahan), teks cerpen sarat dengan penggunaan pronomina atau kata ganti orang. Dalam penceritaan, pronomina digunakan untuk membentuk sudut pandang kepengarangan atau arus kesadaran tokoh cerita. Sebagai contoh, ketika pengarang mengisahkan cerita dengan sudut pandang orang pertama, kita akan sering menemukan kata ganti orang pertama, misalnya aku, saya, atau kami.

Kata Ganti Orang dan Majas Sebagai Ciri Bahasa Cerpen

Kata Ganti Orang dan Majas Sebagai Ciri Bahasa Cerpen

Majas Sebagai Ciri Bahasa

Selain sering menggunakan kata ganti orang, teks cerpen pun banyak menggunakan majas atau gaya bahasa, suatu bentuk pemilihan kata dengan menggunakan makna-makna konotasi. Hal ini lazim kita temukan karena sebagai salah satu jenis karya sastra, teks cerpen pun harus memiliki unsur keindahan (dulce), di samping unsur kebermanfaatan (utile). Oleh karena itu, dalam materi kita kali ini, kita akan membahas dua hal dalam teks cerpen, yaitu penggunaan kata ganti orang dan majas.

Kata Ganti Orang

Kata ganti orang adalah jenis kata ganti yang dipakai untuk mengacu pada orang. Jenis kata ini dapat mengacu pada diri sendiri (kata ganti orang pertama selanjutnya disebut KGP), mengacu pada orang yang diajak bicara (kata ganti orang kedua, selanjutnya disebut KGD), atau mengacu pada orang yang dibicarakan (kata ganti orang ketiga, selanjutnya disebut KGT). Di antara kata ganti orang itu, ada yang mengacu pada jumlah satu atau lebih dari satu.

Penggunaan kata ganti orang erat kaitannya dengan tingkah laku sosial penduduk Indonesia dalam hal umur, status, dan keakraban. Itulah sebabnya penggunaanya mengenal dua wujud. Sebagai contoh, ketika yang diajak berbicara adalah orang yang belum dikenal atau baru saja kenal, kata ganti yang digunakan adalah Anda dan bukan kamu, apalagi kau.

Kata Ganti Orang Pertama (KGP)

KGP tunggal dalam bahasa Indonesia adalah saya, aku, dan daku. Ketiga bentuk itu adalah bentuk baku, tetapi mempunya tempat pemakaian yang agak berbeda.
Saya adalah bentuk yang formal dan umumnya dipakai dalam tulisan atau ujaran resmi.

KGP aku lebih banyak dipakai dalam pembicaraan batin dan dalam situasi yang nonformal serta menunjukkan keakraban. Kata aku memiliki bentuk variasi –ku atau ku-. Variasi –ku kita gunakan untuk menunjukkan makna kepemilikan, seperti pada kata bukuku. Variai ku- biasa kita lekatkan sebelum kata kerja, seperti kulihat, kupakai. Di samping KGP tunggal, bahasa Indonesia juga mengenal bentuk jamak, seperti kami dan kita.

KGP sering kita temukan dalam teks cerpen yang menggunakan sudut pandang pertama. Sudut pandang pertama menunjukkan bahwa pengarang sebagai narator ikut terlibat dalam cerita. Ia menjadi salah satu tokoh yang berkisah atau mengisahkan dirinya sendiri. Sudut pandang ini kadang disebut juga dengan gaya aku-an. Walau demikian, dalam sudut pandang ketiga, KGP juga dapat muncul dalam bentuk kalimat langsung atau merupakan bagian dari dialog antartokoh.

Kata Ganti Orang Kedua (KGD)

KGD dalam bahasa Indonesia mempunyai beberapa wujud, yakni engkau, kamu, Anda, dikau, kau- dan –mu. KGD engkau, kamu, dan kau- digunakan dalam situasi yang nonformal, akrab, atau dari yang berstatus tinggi ke yang lebih rendah dan tidak boleh sebaliknya karena akan dirasa tidak sopan. KGD Anda dapat digunakan untuk membentuk kesopanan saat berhadapan dengan situasi formal atau bertemu orang yang belum terlalu akrab.

Bentuk jamak dari KGD adalah kalian. Bentuk kata ini dapat divariasi dengan awalan se- menjadi sekalian dan dapat dilekatkan setelah KGD tunggal kamu atau Anda.

Kata Ganti Orang Ketiga (KGT)

Ada dua macam KGT tunggal dalam bahasa Indonesia, yaitu (1) ia, dia, atau –nya dan (2) beliau. Bentuk pertama digunakan dalam suasana nonformal, sedangkan bentuk kedua digunakan dalam suasana formal atau menunjukkan penghormatan. Bentuk jamak dari KGT adalah mereka.

Majas

Majas atau gaya bahasa adalah variasi bahasa dengan ragam tertentu untuk menciptakan keindahan dalam karya sastra dan membuat karya sastra menjadi semakin hidup. Ada banyak ragam majas yang dibagi menjadi empat kelompok, yaitu majas perbandingan, pertentangan, sindiran, dan penegasan. Dalam materi kali ini kita hanya akan membahas majas perbandingan yang sering kita temukan dalam teks cerpen.

Majas perbandingan memiliki banyak varian, di antaranya adalah simile, metafora, personifikasi, hiperbola, litotes, dan metonimia.

Simile

Majas simile adalah majas yang mengungkapkan perbandingan secara eksplisit dengan menggunakan kata penghubung seperti, laksana, bagaikan, bak.
Contohnya adalah sebagai berikut.

  • Wajahnya bercahaya laksana purnama di gelapnya malam.
  • Keberaniannya bagaikan singa.

Metafora

Majas metafora adalah majas yang membandingkan satu benda dengan benda lainnya karena memiliki kesamaan sifat atau hampir sama.
Contoh:

Cuaca semakin gelap karena sang raja siang semakin menyembunyikan diri.

Personifikasi

Personifikasi adalah majas yang menggunakan perilaku manusia dan diberikan kepada sesuatu yang bukan manusia.
Contoh:

Dedaunan melambai tertiup angin.

Hiperbola

Majas hiperbola adalah majas yang melebih-lebihkan keadaan daripada yang sebenarnya.
Contoh:

Tangisannya menganak sungai dan membasahi pipinya hingga membentuk sebuah samudra.

Litotes

Litotes adalah majas yang menunjukkan penurunan kualitas sebagai bentuk dalam merendahkan diri.
Contoh:

Saat kami tiba di vilanya di Puncak, ia berkata, “Selamat datang di gubukku yang sederhana ini.”

Metonimia

Metonima adalah majas yang menggunakan nama yang telah dikenal seperti merek untuk penyebutan benda lain.
Contoh:
Ia pergi ke Yogyakarta dengan Garuda. (maksudnya pesawat)

Mari kita menganalisis teks cerpen berikut!

Anakku Joko tertidur pulas di dalam gerobak yang kutarik. Minggu, Jakarta panas memang seperti biasanya. Setidaknya apartemen-apartemen raksasa milik para orang kaya itu memayungiku dari keganasan matahari. Tresno, si adik joko, bermain-main mengusili wajah lembut kakaknya. Sudah menjadi kebiasaan bagi kami sehari-hari untuk mencari barang-barang bekas di pusat ibu kota ini.

      Dapatkah kalian menemukan kata ganti dan majas yang digunakan dalam teks cerpen di atas?

      Cerpen di atas menggunakan sudut pandang pertama pelaku utama dengan ciri penggunaan kata ganti orang, yaitu KGP aku, -ku, dan kami

      Majas yang terdapat dalam teks cerpen di atas ada dua: metafora (apartemen raksasa) dan personifikasi (apartemen memayungiku/ keganasan matahari).

Poin Penting

Dalam memahami dan mengidentifikasi teks cerpen, pahami kaidah kebahasaannya, di antaranya adalah kata ganti orang dan penggunaan majas.

Kata ganti orang terbagi menjadi tiga: kata ganti orang pertama, kedua, dan ketiga. Majas perbandingan memiliki banyak varian, di antaranya adalah simile, metafora, personifikasi, hiperbola, litotes, dan metonimia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *