Konsep Pengakuan dan Pengukuran
Konsep Pengakuan dan Pengukuran

Konsep Pengakuan dan Pengukuran

259 View

Konsep Pengakuan dan Pengukuran – Pencatatan akuntansi membutuhkan sebuah konsep pengakuan dan pengukuran untuk dapat menyajikan laporan keuangan yang andal dan akurat. Konsep ini mempunyai beberapa asumsi dasar, prinsip-prinsip dan keterbatasan dalam penerapannya. Apa sajakah konsep pengakuan dan pengukuran yang dimaksud? Mari kita simak materinya berikut ini.

Konsep Pengakuan dan Pengukuran
Konsep Pengakuan dan Pengukuran

Aspek pengakuan memegang peranan penting sebagai kerangka dasar, karena pengakuan merujuk kepada prinsip yang mengatur kapan dicatatnya transaksi pendapatan (revenue), beban (expenses), laba (gain) dan rugi (loss). Aspek pengukuran memegang peranan penting dalam kaitannya dengan peran laporan akuntansi yang harus menyajikan data kuantitatif tentang posisi kekayaan perusahaan dalam suatu waktu tertentu. Yang perlu dipertimbangkan dalam aspek ini adalah atribut apa yang dipakai dalam pengukuran.

ASUMSI DASAR

Struktur akuntansi keuangan dibangun atas empat asumsi dasar yaitu:

Asas Kesatuan Usaha

Suatu perusahaan dianggap satu unit usaha ekonomi yang harus dipisahkan dari kekayaan pemiliknya. Tidak boleh ada pencampuran aset dan hutang pemilik dalam perusahaan. Hal ini untuk menentukan nilai bersih dari kekayaan perusahaan.

Kesinambungan Usaha

Perusahaan merupakan satu entitas keuangan yang dianggap akan berdiri seterusnya untuk beberapa periode ke depan. Dalam hal ini tidak ada keinginan yang direncanakan oleh pemilik perusahaan untuk membatasi umur perusahaan kecuali dalam kondisiĀ force majeur. Hal ini akan mempengaruhi pencatatan nilai aktiva dan kewajiban. Sehingga akan diperoleh nilai wajar dari pencatatan aktiva dan hutang apabila terjadi likuidasi perusahaan.

Pengukuran Nilai Uang

Uang merupakan nilai yang digunakan dalam pencatatan aktivitas ekonomi dan merupakan dasar yang tepat untuk pengukuran serta analisa akuntansi.

Periode Akuntansi

Kegiatan ekonomi perusahaan perlu dibagi-bagi menjadi periode-periode akuntansi untuk penilaian kinerja perusahaan. Selain itu, pembagian periode ini juga dapat dijadikan sebagai data pembanding untuk melihat sejauh mana besaran profit yang seharusnya diterima perusahaan. Karena apabila penilaian kinerja dilakukan pada saat perusahaan dilikuidasi akan membutuhkan waktu yang lama untuk mengetahui nilai perusahaan tersebut.

PRINSIP-PRINSIP

Prinsip-prinsip yang dijadikan pegangan dalam setiap pencatatan akuntansi adalah:

Nilai Historis

Demi keandalan atas informasi maka nilai aktiva dan kewajiban yang tercatat pada neraca adalah sebesar nilai historisnya yaitu nilai perolehan. Sehingga pencatatan dilakukan secara riil dan tepat nilai. Hal ini akan mempengaruhi nilai pasar perusahaan dan profit atas penjualan perusahaan apabila akan dijual.

Pengakuan Pendapatan

Pengakuan pendapatan dilakukan apabila perusahaan telah selesai memberikan kewajiban dan pendapatan dapat diakui walaupun secara kas belum diterima. Dengan demikian dapat ditentukan proyeksi nilai pendapatan yang akan diterima perusahaan dalam periode berjalan. Untuk perusahaan tertentu, terdapat metode pengakuan pendapatan khusus.

Penandingan Pendapatan-Beban

Pendapatan dan beban perlu ditandingkan untuk menilai efektivitas produksi perusahaan. Apabila pendapatan yang dihasilkan lebih kecil dari beban produksi yang dikeluarkan maka perusahaan dapat dikatakan mengalami kerugian. Dengan demikian dapat dilakukan langkah-langkah perbaikan untuk proses produksi berikutnya demi memaksimalkan pendapatan.

Pengungkapan Penuh

Penyajian laporan keuangan dan informasi yang mendasarinya harus diungkapkan secara penuh kepada pemakai laporan keuangan. Sehingga informasi yang disajikan dalam laporan keuangan dapat dijadikan sebagai dasar pengambilan keputusan yang tepat untuk meningkatkan kinerja perusahaan.

KETERBATASAN

Dalam praktiknya, pencatatan akuntansi memliki beberapa keterbatasan seperti disebutkan di bawah ini:

Hubungan Antara Manfaat dan Biaya

Hubungan manfaat dan biaya penyajian laporan keuangan merupakan usaha efisiensi atas kegiatan dalam perusahaan. Apabila manfaat yang diberikan dalam penyajian laporan keuangan tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan dalam penyajiannya, maka informasi tersebut tidak akan dipaksakan untuk disiapkan.

Materialitas

Nilai materialitas berkaitan dengan dampak atas penyajian informasi dalam laporan keuangan. Nilai materialitas ini berbeda-beda dalam setiap perusahaan. Jika suatu informasi dalam laporan keuangan apabila dimasukkan atau diabaikan memiliki pengaruh atas pemakai informasi keuangan, maka informasi tersebut dikatakan material. Begitu juga sebaliknya. Sehingga setiap perusahaan memiliki standar yang berbeda atas makna materialitas ini.

Praktik di Industri

Beragamnya jenis industri yang ada mengakibatkan dibutuhkannya metode pencatatan yang berbeda agar tercapai efektifitas laporan keuangan. Karena penyeragaman pencatatan dari industri yang berbeda akan memberikan informasi yang menyesatkan pemakai laporan keuangan.

Konservatisme

Konservatisme berarti kembali pada prinsip dasar yang bersifat umum. konsep ini berguna apabila dalam pencatatan akuntansi terdapat perbedaan dalam penyajiannya. Hal ini bertujuan agar tidak terjadi kelebihan pencatatan ataupun kekurangan penilaian atas sebuah aset yang dapat pemakai informasi keuangan memiliki pemahaman yang keliru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *