Karakteristik Angkatan Balai Pustaka dan Pujangga Baru

By | August 18, 2020

Karakteristik Angkatan Balai Pustaka dan Pujangga Baru – Siswa mampu menemukan perbedaan karakteristik angkatan melalui membaca karya sastra yang dianggap penting pada setiap periode.

Karakteristik Angkatan Balai Pustaka dan Pujangga Baru

Karakteristik Angkatan Balai Pustaka dan Pujangga Baru

Apakah kalian pernah menonton film “Siti Nurbaya” atau sering mendengar istilah “Aku bukan Siti Nurbaya” yang dikaitkan dengan perjodohan? Siti Nurbaya adalah roman karya Marah Rusli, penyair Indonesia. Beliau dikenal sebagai penyair Angkatan Balai Pustaka. Nah, pada topik kali ini, kalian akan diajak mengetahui lebih banyak lagi tentang Angkatan Balai Pustaka.

Asal Mula Berdirinya Balai Pustaka

Pada akhir abad ke-19 pemerintah banyak membuka sekolah bumi putra, dengan tujuan untuk mendidik pegawai-pegawai rendahan yang dibutuhkan oleh pemerintah Belanda. Akan tetapi, sekolah-sekolah yang tidak diharapkan akan tumbuh dan berkembang, justru berkembang makin pesat, banyak masyarakat yang pandai membaca dan menulis. Melihat minat masyarakat yang pesat dalam hal membaca, maka pemerintah Belanda merasa khawatir jika rakyat sempat membaca buku-buku dari luar negeri. Oleh karena itu, pemerintah Belanda kemudian membentuk sebuah komisi yang diberi nama Commissie Voor de Inlandsche School en Volksslectuur (Komisi untuk Bacaan Rakyat dan Sekolah-Sekolah Bumi Putra). Komisi ini dibentuk pada tanggal 14 September 1908 di bawah pimpinan Dr. G.A.J. Hazeu. Pada tahun 1917 namanya diganti menjadi Balai Pustaka, dan Balai Pustaka kemudian berkembang dengan pesat.

Adapun hal-hal yang diusahakan oleh Balai Pustaka adalah sebagai berikut.
1) Membukukan cerita-cerita rakyat atau dongeng-dongeng yang tersebar di kalangan rakyat. Jika tidak dibukukan, lama-kelamaan akan hilang.
2) Menerjemahkan sastra Eropa yang bermutu dipandang dari segi sastra. Dengan demikian, kita juga dapat berkenalan dengan kesusastraan asing.
3) Menerbitkan buku-buku bacaan sehat bagi rakyat Indonesia, juga buku-buku yang dapat menambah pengetahuan dan kecerdasan rakyat. Misalnya, buku-buku yang berisi petunjuk bagaimana menjaga kesehatan, cara bercocok tanam, beternak, dan sebagainya.

Bagi perkembangan kesusastraan Indonesia, berdirinya Balai Pustaka memberikan kesempatan dan kemungkinan kepada rakyat Indonesia untuk berkarya sekaligus memperoleh bacaan sehat. Balai Pustaka telah memberikan dorongan maju dalam bidang karang mengarang atau tulis-menulis. Dari sinilah kemudian muncul pengarang-pengarang yang kemudian kita kenal sebagai pelopor Angkatan Balai Pustaka, seperti Nur Sutan Iskandar, Marah Rusli, Abdul Muis dan sebagainya.

Karakteristik Sastra Balai Pustaka

Sastra Balai Pustaka lahir sekitar tahun 20-an, di mana kehidupan masyarakat kita dalam masa penjajahan. Di bawah penindasan kaum penjajah, masyarakat kita memiliki sikap, cita-cita, dan adat istiadat yang isinya memberontak. Hal tersebut disebabkan oleh dalam kehidupan mereka selalu diwarnai peristiwa-peristiwa sosial dan budaya yang sengaja diciptakan oleh pihak penjajah, yakni pemerintah Belanda. Hal inilah yang menjadi ciri atau karakteristik sastra pada masa itu. Umumnya karakteristik sastra suatu periode dipengaruhi oleh tiga hal, yaitu: (1) situasi dan kondisi masyarakat, (2) sikap hidup dan cita-cita para pengarang, dan (3) sikap dan persyaratan yang ditentukan oleh penguasa atau pemerintah.

Bertolak dari hal-hal tersebut di atas, karakteristik sastra Angkatan Balai Pustaka adalah sebagai berikut.
(1) Bahasa sastra adalah bahasa Indonesia masa permulaan perkembangan, yang disebut bahasa Melayu Umum;
(2) Sastra Balai Pustaka umumnya bertema masalah kawin paksa atau tema adat masyarakat (terutama kaum ibu) beranggapan bahwa perkawinan urusan orang tua. Orang tua memiliki kekuasaan mutlak dalam menentukan jodoh anaknya.
(3). Latar belakang sosial karyanya berupa pertentangan kaum muda dan kaum tua dalam hal adat istiadat. Contohnya, Salah Asuhan.
(4). Tokoh dalam roman/novelnya masih bersifat kedaerahan, belum kukuhnya nasionalisme.
(5). Bersifat didaktis.
(6). Genre sastra berbentuk novel atau roman, puisi masih berbentuk pantun dan syair.

Poin Penting

Angkatan Balai Pustaka dikenal sebagai angkatan pembangkit karena lahir pada masa kebangkitan sastra yaitu tahun 1920.

section-media

Periodisasi sastra ialah pembagian sastra menurut zamannya. Di Indonesia periodisasi sastra terbagi menjadi 10 angkatan yaitu Angkatan Pujangga Lama, Angkatan Sastra Melayu Lama, Angkatan Balai Pustaka, Angkatan Pujangga Baru, Angkatan 1945, Angkatan 1950 – 1960-an, Angkatan 1966 – 1970-an, Angkatan 1980 – 1990-an, Angkatan Reformasi, dan Angkatan 2000-an. Pada pembahasan topik kali ini kita khusus akan mempelajari karakteristik Angkatan Pujangga Baru.

Angkatan Pujangga Baru (PB) lahir pada tahun 30-an, sehingga angkatan ini lebih dikenal juga dengan nama angkatan 30-an. PB lahir karena bentuk protes atas banyaknya karya sastra yang dibredel pada masa Balai Pustaka (BP) yang menyuarakan nasionalisme dan kesadaran berbangsa. Oleh karena itu, para sastrawan yang tidak puas berkumpul dan mendirikan majalah Poedjangga Baroe. Mereka ingin menumbuhkan rasa nasionalisme dan kesadaran berbangsa Indonesia yang tinggi. Tak heran bila karya sastra PB kaya akan nilai intelektual, nasionalisme, dan elitis. Karya sastra yang banyak dipublikasikan adalah berbentuk sajak atau puisi, cerpen, novel, roman, ataupun drama pendek yang diterbitkan secara bertahap.

Beberapa pengarang yang produktif pada masa itu antara lain: Sutan Takdir Alisyahbana, Sanusi Pane, Armin Pane, Amir Hamzah, Asmara Hadi, Imam Supardi, Tatengkeng, A. O. H. Kertahadimadja, Or. Mandam, Sutan Syahrir, Selasik, I Gusti Nyoman Panjitisn, Hamka, Adinegoro

Beberapa karya sastra angkatan PB:Layar Terkembang, Anak Perawan di Sarang Penyamun, Tebaran Mega, Puisi Lama, Belenggu, Jiwa Berjiwa, Nyanyi Sunyi, Buah Rindu, Setangi Timur, Sastra Melayu Lama dengan Tokoh-Tokohnya, Rindu Dendam, Puspa Aneka, Tuba Dibalas dengan Susu, Hulu Balang Raja, Katak Hendak Lembu, Kalau Tak Untung, Pencuri Anak Perawan, Sukreni Gadis Bali, Si Cebol Merindukan Bulan, Ken Arok dan Ken Dedes, Di Bawah Lindungan Ka’bah, Tenggelamnya Kapalnya Van der Wijk, Andang Taruna, Cincin Stempel,Tebusan Darah.

Pada Angkatan Pujangga Baru karya menampilkan nasionalisme Indonesia. memasuki kehidupan modern, menampakkan kebangkitan kaum muda. Banyak terpengaruh oleh Angkatan 1880 di Negeri Belanda, sehingga puisi-puisinya banyak yang berbentuk soneta. Pada masa ini terjadi polemik yang seru antartokoh-tokohnya. Sutan Takdir Alisyahbana berorientasi ke barat yang intelektualistik, individualistuik dan materialistik, punya idealisme tinggi akan kemajuan iptek/sains dan dunia. Sanusi Pane berorientasi ke timur (India, Timur Tengah, Cina) yang spiritualistik, mementingkan olah ruhani. Kemudian Armijn Pane, Amir Hamzah, Kihajar Dewantara, yang lebih menginginkan adanya sintesis barat yang sifistikated dan timur yang sufistik.

Mari kita amati kutipan di bawah ini!

Contoh 1
Dikisahkan pada roman “Layar Terkembang” seorang ayah bernama Wiriatmadja memiliki dua anak bernama Tuti (anak sulung) dan Maria (anak bungsu). Keduanya memiliki sifat yang berbeda. Tuti gadis cerdas, pendiam, dan senang berorganissai. Sedangkan Maria gadis yang lincah, ramah, dan manja. Seorang pemuda bernama Yusuf telah jatuh cinta kepada Maria. Namun, jodoh memang di tangan Tuhan. Maria terkena penyakit tipus dan TBC yang parah. Sebelum meninggal dia meminta kepada Yusuf untuk menikahi saudaranya bernama Tuti. Merekapun akhirnya menikah.

Bila kita amati dengan saksama tema cerita Angkatan Pujangga Baru sudah tidak lagi memposisikan wanita sebagai makhluk yang hanya berdiam di dapur dan di rumah. Akan tetapi, wanita sudah memiliki kesamaan gender dengan laki-laki. Pernikahanpun tidak lagi diatur oleh adat, tapi mereka sudah dapat menentukan sendiri. Ini adalah salah satu karakteristik Angkatan PB.

Contoh 2
Bila kita perhatikan puisi “Doa” karya Amir Hamzah akan berbeda dengan puisi lainnya.
• kita akan dibawa pada suatu bentuk kerinduan kepada sang pencipta layaknya kerinduan kepada kekasih hati. Namun, cara mengungkapkan puisinya berbeda dengan angkatan sebelumnya.

Dengan apakah kubandingkan pertemuan kita, kekasihku?
Kekasihku di sini yang di maksud adalah Tuhan
….

• Selain itu puisi “Doa” Kaya akan majas sebagai simbol romantisme. Majas yang nampak:
1. Majas simile : memakai kata gabung bagaik, laksana, dsbnya
2. Majas repitisi : memakai bahasa perulangan (biar …biar) dalam satu kalimat

Hatiku terang menerima kataMu, bagai bintang memasang lilinNya.
Kalbuku terbuka menunggu kasihMu, bagai sedap malam menyirak kelopak.[/font]
Aduh, kekasihku, isi hatiku dengan kataMu, penuhi dadaku dengan, cahayaMu, biar bersinar mataku sendu, biar berbinar galakku rayu.[/font]

Poin Penting

1. Poedjangga Baroe adalah nama sebuah majalah di mana berkumpul para pengarang muda yang memiliki keinginan untuk menjadikan kebudayaan Indonesia lebih universal dan nasional.
2. Berdirinya Angkatan Pujangga Baru dilatarbelakangi oleh peristiwa Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Mereka ingin menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional.
3. Pendiri Angkatan Pujangga Baru ialah Sutan Takdir Alisyahbana, Amir Hamzah, Armijn Pane, dan Sanusi Pane.
4. Angkatan Pujangga Baru dibagi menjadi dua kelompok yaitu mereka adalah kelompok seni untuk seni dan kelompok seni untuk pembangunan.
5. Karakteristik Angkatan PB ialah tema nasionalisme, romantisme, modern, dan intelektualisme dengan penggunaan bahasa Indonesia yang lebih baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *