Fertilisasi dan Kehamilan

By | April 15, 2020

Fertilisasi dan Kehamilan – Pada topik sebelumnya, kita telah mempelajari bagaimana proses terbentuknya sel sperma dan sel telur (ovum) yang berfungsi sebagai sel kelamin. Sel sperma dan sel telur yang terbentuk memiliki jumlah kromosom haploid (n), yaitu setengah dari jumlah kromosom sel tubuh (diploid/2n). Pada manusia, jumlah kromosom sel tubuh adalah 46 buah, sehingga jumlah kromosom pada sel sperma dan sel telur masing-masing adalah 23 buah. Jumlah kromosom haploid tersebut bertujuan untuk menghasilkan embrio yang memiliki kromosom sebanyak 46 buah.

Fertilisasi dan Kehamilan

Fertilisasi dan Kehamilan

Fertilisasi dan Kehamilan

Embrio dihasilkan melalui proses penyatuan sel sperma dengan sel telur. Sel sperma dan sel telur yang masing-masing memiliki kromosom 23 buah akan bersatu hingga membentuk embrio yang memiliki jumlah kromosom 46 buah (memiliki jumlah kromosom normal seperti manusia pada umumnya). Proses penyatuan sel sperma dengan sel telur ini disebut sebagai fertilisasi.

Proses fertilisasi pada manusia terjadi secara internal di dalam tubuh wanita. Sehingga, embrio yang dihasilkan dari fertilisasi tersebut juga berkembang di dalam tubuh wanita. Perkembangan embrio hasil fertilisasi yang terjadi di dalam rahim (uterus) wanita disebut sebagai kehamilan (gestasi).

Fertilisasi

Sebelum proses fertilisasi berlangsung, terlebih dahulu terjadi proses kopulasi. Penis yang ereksi akan mengeluarkan cairan cemen. Dalam sekali pengeluaran cemen, terdapat jutaan sel sperma. Proses keluarnya cemen tersebut dinamakan ejakulasi. Masa subur pada wanita adalah masa dimana sel ovum sudah dikeluarkan dari ovarium dan sudah siap untuk dibuahi oleh sperma. Masa subur ini terjadi sangat singkat, yaitu pada hari ke-13 hingga hari ke-14 dari siklus menstruasi.

Setelah ejakulasi, jutaan sel sperma akan berlomba untuk bisa menuju ke sel telur yang hanya berjumlah satu buah. Hanya sel sperma paling kuat yang dapat mencapai sel telur dan bersatu dengan sel telur. Pada saat sel sperma yang paling kuat berhasil mencapai sel telur yang berada di saluran tuba fallopi, maka akan terjadi proses penyatuan sel sperma dengan sel telur. Proses penyatuan sel sperma dengan sel telur tidak berlangsung dengan mudah, karena sel sperma harus bisa menembus dinding pelindung sel telur.

Untuk bisa menyatu dengan sel telur, bagian akrosom sperma mengeluarkan enzim hialuronidase dan enzim proteinase. Kedua enzim yang dihasilkan oleh akrosom tersebut berfungsi untuk menembus tiga lapisan pelindung sel telur, yaitu korona radiatazona pelusida, dan membran plasma. Saat satu sel sperma telah berhasil menembus sel telur, maka secara otomatis sel telur akan menghalangi sel sperma lain untuk memasuki sel telur, sehingga hanya satu sel sperma saja yang dapat membuahi sel telur.

Setelah sel sperma berhasil menembus lapisan pelindung sel telur, maka akan terjadi proses penyatuan (pembuahan) sel sperma dengan sel telur (fertilisasi). Fertilisasi menghasilkan zigot diploid (2n) yang memiliki kromosom 46 buah. Selanjutnya, zigot bergerak menuju rahim (uterus) melalui oviduk (saluran tuba fallopi).

Pada saat bergerak ke arah rahim, zigot akan membelah dan berkembang menjadi morula dalam waktu empat hari. Morula adalah sel zigot yang telah membelah menjadi 32 sel. Kemudian melakukan pembelahan lagi dan berkembang menjadi blastula. Blastula adalah keadaan zigot yang terdiri atas susunan embrioblas dan trofoblas. Embrioblas adalah bakal janin yang berada di bagian dalam blastula. Sedangkan trofoblas adalah lapisan selaput pelindung yang akan berkembang menjadi plasenta. Kurang lebih lima hari setelah fertilisasi, bakal janin menempel pada dinding rahim (endometrium) dan prosesnya dinamakan implantasi. Implantasi ini yang menyebabkan terjadinya kehamilan (gestasi).

Fertilisasi

Kehamilan adalah keadaan dimana bakal janin berkembang di dalam rahim (uterus). Kehamilan terjadi setelah bakal janin berbentuk blastula menempel (implantasi) di dinding rahim (endometrium). Sel-sel trofoblas dari blastula akan membantu proses penempelan pada dinding rahim. Trofoblas juga akan membentuk lapisan pelindung bagi bakal janin. Bentuk blastula berlangsung selama delapan hari.

Lapisan embrioblas dari blastula melakukan perkembangan menjadi 2 lapisan, yaitu lapisan luar (ektodermis) dan lapisan dalam (endodermis). Lapisan ektodermis selanjutnya mengalami pelekukan (invaginasi) membentuk lapisan mesodermis. Lapisan mesodermis berada di tengah, di antara endodermis dan ektodermis. Sehingga, dihasilkan 3 lapisan pada embrio. Pada keadaan ini, embrio disebut sebagai gastrula yang memiliki 3 lapisan, yaitu ektodermis, mesodermis, dan endodermis. Gastrula terbentuk pada minggu ketiga.

Tiga lapisan yang dimiliki oleh gastrula tersebut akan berkembang untuk membentuk berbagai jaringan, organ hingga sistem organ yang lengkap. Proses pembentukan organ ini disebut sebagai masa organogenesis. Organogenesis berlangsung sejak minggu keempat hingga minggu kedelapan. Pada masa organogenesis ini, bakal janin telah menjadi embrio.

Selanjutnya, akan terbentuk selaput embrio yang terdiri atas 4 jenis, yaitu kantung kuning telur (yolk sac), amnion, alantois dan korion. Kantung kuning telur berfungsi sebagai cadangan makanan bagi embrio. Amnion berfungsi sebagai lapisan pelindung yang memiliki cairan amnion sebagai media bagi perkembangan embrio. Alantois berfungsi sebagai penampung sisa metabolisme embrio. Korion berfungsi sebagai pembentuk plasenta, yaitu saluran nutrisi yang menghubungkan embrio dengan tubuh ibu. Setelah semua selaput embrio terbentuk, maka embrio berubah menjadi janin (fetus).

Seterusnya, janin akan berkembang dan tumbuh di dalam rahim selama 9 bulan 10 hari. Selama masa tersebut, berbagai organ janin akan terbentuk hingga sempurna. Pada saat janin telah memiliki organ tubuh yang sempurna, janin akan dilahirkan sebagai bayi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *