Ekspresi Metafor, Personifikasi, dan Majas Lainnya dalam Teks Anekdot

By | June 10, 2020

Ekspresi Metafor, Personifikasi, dan Majas Lainnya dalam Teks Anekdot – Bagaimana cara kita mengetahui apakah sebuah anekdot mempunyai kedua ciri tersebut? Tentunya dengan menganalisis unsur-unsur yang ada pada anekdot itu sendiri, seperti tokoh utama, tema, latar, dan gaya bahasa.

Ekspresi Metafor, Personifikasi, dan Majas Lainnya dalam Teks Anekdot

Ekspresi Metafor, Personifikasi, dan Majas Lainnya dalam Teks Anekdot

Coba kita lihat contoh anekdot berikut!

Kurus

Adel, seorang siswi SMA, sedang ingin curhat dengan teman dekatnya ketika istirahat. Sayangnya teman dekatnya yang berbadan gemuk itu sedang tidak terlalu ingin meladeni Adel karena lapar.
“Aku sebal deh dengan orang yang sering mengurusi temannya sendiri,” tutur Adel sewot.
“Aku tidak setuju dengan pendapatmu itu.” Jawab teman Adel sambil melihat ke kantin.
“Loh kok bisa?”
“Yak karena belum tentu temanmu itu benar-benar ingin kurus.”
Adel langsung pergi tanpa permisi.

Nah, dari contoh anekdot di atas, coba kita ajukan pertanyaan berikut.
1. Apakah anekdot itu lucu?
2. Apakah anekdot itu memberikan pelajaran atau kesadaran tertentu?

antara kalian, pasti menjawab berbeda mengenai contoh anekdot di atas. Ada yang bilang lucu ada juga yang berpendapat sebaliknya. Namun, yang terpenting, sebuah anekdot haruslah mempunyai hikmah yang dapat dipetik di dalamnya.

Dalam beberapa kesempatan, pembaca menilai sebuah teks itu termasuk anekdot bukan hanya karena terdapat unsur lucu, melainkan juga terkandung gambaran kekonyolan dari tokoh yang terlibat dalam cerita. Kekonyolan-kekonyolan yang ditemukan dalam teks cerita anekdot biasanya muncul dengan gaya bahasa tertentu yang sifatnya menyindir atau mengandaikan sesuatu. Sindiran dan pengandaian tersebut tentulah berisikan pesan yang mengarah menuju perbaikan atau kebaikan.

Dari teks anekdot berjudul “Kurus” di atas, nampak kekonyolan teman dari tokoh Adel yang sedang ingin makan terganggu dengan kedatangan Adel. Teman Adel tersebut akhirnya sengaja memelesetkan kata mengurusi menjadi membuat jadi kurus. Hal itu dimaksudkan untuk menyindir Adel agar segera menyelesaikan curhatnya karena dia merasa lapar harus pergi ke kantin.

Nah, sahabat Quipper gaya bahasa semacam ini ternyata termasuk kategori majas, dalam hal ini adalah majas ironi.        apa itu majas? Majas dalam bahasa Inggris adalah figurative language yang berarti bermakna kias dan diciptakan untuk menciptakan efek tertentu. Secara garis besar majas terbagi menjadi empat jenis, yakni majas perbandingan, pertentangan, pertautan, dan perulangan. Adapun macamnya cukup banyak. Majas-majas yang sering muncul dalam teks anekdot itu di antaranya asosiasi, metafora, personifikasi, eufimisme, antitesis, hiperbola, litotes, ironi, metonimia, dan sinekdoke.

adalah contoh-contoh kalimat bermajas yang sering muncul dalam anekdot.

Contoh majas dalam anekdot

1. Badannya itu seperti tiang listrik. (asosiasi)
2. Setelah itu, anak buah sang Hakim mencari pembantu si penjual kayu yang lain yang berbadan pendek, kurus, dan punya uang. (metafora)
3. Aliran sungai pun membawa nangka milik Kabayan hingga ke rumahnya kembali. (personifikasi)
4. Dan lantai gedung itu pun bergetar-getar hingga nyaris runtuh saat pria itu tertawa. (hiperbola)
5. Neil Amstrong, yang terbang ke bulan dengan Apollo 11, kaget dan bertanya kepada si orang Cina bagaimana caranya dia bisa sampai di bulan. (metonimia)
6. Dengan sigap, maling itu membawa dua ekor ayam kampung buruannya. (sinekdoke)
7. Seorang tuna wisma sedang mengobrol dengan pejalan kaki yang ternyata tuna netra. (eufimisme)
8. Segala fitnahan Sultan dibalas dengan budi bahasa yang baik oleh Nasrudin Hodja. (antitesis)

Poin Penting

Kalimat sindiran biasanya dapat menggunakan majas ironi, sedangkan kalimat pengandaian biasanya berisikan majas asosiasi atau perumpamaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *