Daftar Pokok-Pokok Pertanyaan dan Etika Wawancara

Daftar Pokok-Pokok Pertanyaan dan Etika Wawancara – Kamu tentu pernah melihat seseorang yang sedang melakukan wawancara bukan? Wawancara adalah proses komunikasi atau dialog antara orang yang mencari informasi dengan yang memberikan informasi. Orang yang memberikan informasi dinamakan narasumber, sedangkan orang yang mewawancarai dinamakan pewawancara.

Daftar Pokok-Pokok Pertanyaan dan Etika Wawancara
Daftar Pokok-Pokok Pertanyaan dan Etika Wawancara

Daftar Pokok-Pokok Pertanyaan Wawancara

Nah, untuk melakukan wawancara, kita perlu mempersiapkan berbagai hal. Salah satu di antaranya adalah menyusun daftar pertanyaan. Untuk menyusun daftar pertanyaan, gunakanlah rumus sakti yang digunakan setiap wartawan ketika akan mewawancara narasumbernya, yakni 5W + 1H. Apa maksudnya? 5W + 1H adalah berbagai kata tanya yang harus kamu ketahui untuk mendapatkan sebuah informasi yang lengkap. Isi 5W+ 1H adalah what, who, where, when, why, dan how. Penjelasannya sebagai berikut.

  • What adalah kata tanya apa. Kata tanya ini digunakan untuk menggali informasi apa yang terjadi dan apa yang ingin diketahui dari sebuah peristiwa.
    Contoh:
    Pewawancara : Apa yang terjadi, Pak?
    Narasumber : Kebakakaran dahsyat sehingga melalap 10 rumah sekali sekaligus dalam satu RT.
  • Who adalah kata tanya siapa. Kata tanya ini digunakan untuk menggali informasi siapa di balik sebuah peristiwa atau kejadian. Misalnya, siapa yang terlibat dari suatu peristiwa atau siapakah yang menjadi korban dari sebuah peristiwa. Pertanyaan ini penting karena bisa jadi orang yang terlibat atau terkait dari peristiwa tersebut adalah orang yang terkenal di masyarakat
    Contoh:
    Pewawancara : Menurut Bapak, siapa pelaku penculikan siswa SD Pengayoman itu, Pak?
    Narasumber : Pelaku penculikan ternyata sindikat yang sudah lama menjadi target Kepolisian.
  • Why adalah kata tanya mengapa. Kata tanya ini diajukan untuk mengetahui informasi alasan yang melatarbelakangi peristiwa terjadi. Menggali informasi mengapa suatu peritiwa terjadi, bukanlah persoalan yang mudah. Kamu nanti akan mengahadapi berbagai versi alasan dari berbagai pihak karena biasanya alasan yang diajukan bergantung pada kepentingan pihak tertentu. Oleh karena itu, kamu harus pintar mencari informasi yang akurat sesuai dengan fakta-fakta yang ada.
    Contoh:
    Pewawancara : Mengapa tabrakan beruntun di tol kilometer 15 ini terjadi, Pak?
    Narasumber : Tabrakan terjadi karena supir truk mengantuk dan akhirnya kehilangan kendali.
  • Where adalah kata tanya di mana. Kata tanya ini digunakan untuk menggali informasi wilayah atau daerah peristiwa terjadi. Letak atau daerah peristiwa ini penting diketahui sejelas-jelasnya agar tidak mengaburkan infomasi.
    Contoh:
    Pewawancara : Di mana tepatnya pabrik bakso yang menggunakan bahan-bahan kimia berbahaya?
    Narasumber : Pabrik itu terletak di Jalan Suka Damai no. 200. Tempatnya sangat terpencil sehingga hampir tidak terlihat.
  • When* adalah kata tanya kapan. Kata tanya ini digunakan untuk mengetahui informasi waktu terjadinya suatu peristiwa. Kamu harus menggali informasi sedetailnya kapan suatu peristiwa terjadi.
    Contoh:
    Pewawancara : Kapan kebakakaran Gedung Seba Guna SMP Karimata terjadi?
    Narasumber : Kebakaran terjadi pukul 17.30, ketika hampir semua guru sudah pulang.
  • How adalah kata tanya bagaimana. Kata tanya ini digunakan untuk mengetahui penjelasan mengenai sebuah kejadian atau peristiwa. Artinya, sebuah peristiwa dari awal sampai akhir akan terungkap dengan mengajukan pertanyaan bagaimana sebuah peristiwa bisa terjadi.
    Contoh:
    Pewawancara : Bagaimana kebakaran Ruang Serba Guna SMP Karimata itu bisa terjadi, Pak?
    Narasumber : Pada awalnya terdengar bunyi ledakan besar. Ledakan itu bisa terdengar sampai ruang kepala sekolah. Kemudian saya dan Pak Bejo, petugas kebersihan sekolah, mengecek sumber ledakan. Ternyata ledakan bersumber di ruangan serba guna. Api langsung saja membesar. Sampai sejauh ini polisi baru bisa mengidentifikasi bahwa penyebab ledakan karena korsleting pada AC yang tidak dimatikan.

Setelah kamu mengajukan pertanyaan dengan menggunakan rumus sakti itu, kamu juga bisa mengembangkan pertanyaan untuk lebih menggali informasi, misalnya dengan kata tanya berapa.

Contoh:
Pewawancara : Berapa perkiaraan kerugian yang dialami SMP Karimata akibat kebakaran itu?
Narasumber : Kerugian itu ditaksir sekitar 50 juta karena di dalam ruang serba guna terdapat empat buah AC, kamera CCTV, kursi-kursi, LCD, dan lain-lain.

Selain menggunakan rumus sakti tersebut, untuk menyusun daftar pertanyaan, kamu juga harus memperhatikan beberapa hal, yaitu sebagai berikut.

  1. Pertanyaan yang diajukan harus berisi satu permasalahan agar narasumber menjadi lebih fokus;
  2. Usahakanlah pertanyaan yang diajukan tidak terlalu panjang;
  3. Bentuk pertanyaan harus jelas dan mudah dipahami;
  4. Pertanyaan yang diajukan tidak menyinggung perasaan yang diwawancarai;
  5. Pertanyaan tidak mengacu pada SARA.

Poin Penting

  1. Wawancara adalah adalah proses komunikasi atau dialog antara orang yang mencari informasi dengan yang memberikan informasi.
  2. Orang yang memberikan informasi dinamakan narasumber.
  3. Untuk menyusun daftar pertanyaan, digunakan rumus sakti, yakni 5W + 1H.
  4. Selain menggunakan rumus sakti, ada beberapa hal yang harus diperhatikan ketika membuat daftar pertanyaan, yaitu sebagai berikut.
  • Pertanyaan yang diajukan harus berisi satu permasalahan agar narasumber menjadi lebih fokus;
  • Usahakanlah pertanyaan yang diajukan tidak terlalu panjang;
  • Bentuk pertanyaan harus jelas dan mudah dipahami;
  • Pertanyaan yang diajukan tidak menyinggung perasaan yang diwawancarai;
  • Pertanyaan bukan mengarah pada SARA.

Melakukan Wawancara dengan Baik

Wawancara adalah proses komunikasi dua arah atau tanya jawab antara seorang penanya dan yang memberikan informasi atau penjelasan. Orang yang mengajukan pertanyaan dinamakan pewawancara, sedangkan yang menjelaskan jawaban disebut narasumber.

Wawancara biasanya dilakukan oleh seorang wartawan pada saat meliput berita. Informasi yang diberikan oleh narasumber bervariasi, bergantung topik yang ditanyakan oleh pewawancaranya. Misalnya topik ekonomi, politik, dan pendidikan. Wawancara juga bisa dilakukan ketika akan menulis laporan atau biografi seseorang (kisah tentang kehidupan seseorang).

Untuk melakukan wawancara, diperlukan berbagai persiapan. Persiapan yang dimaksud adalah sebagai berikut.

  1. Menentukan topik yang akan dibahas. Penentuan topik ini penting karena berkaitan dengan narasumber yang akan ditanya dan susunan daftar pertanyaan yang akan diajukan;
  2. Menentukan narasumber yang sesuai dengan topik. Hal ini dimaksudkan agar narasumber yang akan diwawancara adalah narasumber yang menguasai permasalahan atau mengetahui dengan pasti peritiwa yang akan diliput;
  3. Menghubungi narasumber untuk membuat janji pertemuan melakukan wawancara;
  4. Membuat daftar pertanyaan yang sesuai dengan topik yang telah ditentukan dengan menggunakan rumus sakti, yakni 5W + 1H (apa, siapa, di mana, kapan, mengapa, dan bagimana);
  5. Menyiapkan daftar pertanyaan tambahan untuk lebih memperluas informasi;
  6. Menguasai topik yang akan diwawancarai agar kita memahami topik yang ditanyakan;
  7. Menyiapkan peralatan untuk melakukan wawancara, seperti kamera, recorder, dan sebagainya;
  8. Menyiapkan mental diri kita sendiri agar tidak grogi ketika menghadapi narasumber;
  9. Mengunakan pakaian dan penampilan yang sopan pada saat akan mewawancarai narasumber.

Wawancara memiliki banyak ragamnya. Hal itu bergantung pada media dan jumlah orang yang diwawancara. Jika dilihat dari medianya, wawancara dibagi menjadi dua macam, yaitu sebagai berikut.

  1. Wawancara langsung atau bertemu dengan narasumber. Artinya, pewawancara berhadapan langsung dengan narasumber.
  2. Wawancara tidak langsung, yakni wawancara menggunakan media tertentu sebagai perantara. Misalnya melalui telepon atau video call.

Jika dilihat dari jumlah orang yang diwawancarai, wawancara dibagi menjadi dua, yaitu sebagai berikut.

  1. Wawancara profil pribadi, yakni wawancara kepada seorang narasumber yang ahli di bidang tertentu atau sosok yang terkenal untuk dimintai pendapatnya tentang suatu hal.
  2. Wawancara kelompok, yakni wawancara kepada beberapa narasumber secara bersamaan untuk membicarakan suatu topik.

Pada saat wawancara, ada tiga tahapan yang dilakukan, yakni sebagai berikut.

  1. Tahapan Pendahuluan, yakni tahapan yang berisi perkenalan pewawancara kepada narasumber. Pewawancara menyebutkan nama dan nama perusahaan yang menugaskannya Di samping itu, pada tahapan ini, pewawancara juga menyebutkan tujuan wawancara. Bahkan pewawancara juga bisa menambahkan pertanyaan yang sifatnya menghangatkan suasana agar timbul keakraban antara narasumber dengan pewawancara, misalnya menanyakan hobi narasumber.
    Contoh:
    Pewawancara : Selamat Pagi, Ibu Nova. Saya dari Harian Kartini. Apa kabar, Bu?
    Narasumber : Kabar baik.
    Pewawancara : Wah, Ibu sedang menyalurkan hobi kelihatannya?
    Narasumber : Oh iya, berkebun adalah salah satu hobi saya.
  2. Tahapan inti, yakni proses saat wawancara atau tanya jawab. Pada tahapan ini pertanyaan langsung kepada permasalahan. Pewawancara harus menggali informasi sebanyak-banyaknya. Selain itu, ia juga harus mengajukan pertanyaan dan menyimak jawaban dari narasumber, pewawancara harus menyimaknya dengan baik agar narasumber tidak mengulang jawaban. Selain itu, jika narasumber menjawab di luar konteks pertanyaan, pewawancara wajib menggiring jawaban narasumber agar kembali ke konteksnya. Pada tahapan ini, hal yang patut diperhatikan oleh pewawancara adalah jangan sampai memotong pembicaraan narasumber. Selain itu, ajukanlah pertanyaan langsung pada temanya. Hal yang patut dicatat pula, sebagai seorang pewawancara harus bisa menepati janji yang telah dibuat oleh narasumber. Misalnya, jika narasumber meminta agar bagian tertentu dari informasinya tidak boleh dipublikasikan, pewawancara wajib menjaga kerahasiaannya.
    Contoh:
    Pewawancara : Menurut Bapak bagaimana dengan kasus korupsi yang marak di kalangan pejabat?
    Narasumber : Memang saat ini korupsi marak di kalangan pejabat. Ini cukup memprihatinkan. Hal ini menjadi preseden buruk dan cukup memalukan.
  3. Tahapan Penutup, yakni pewawancara menarik simpulan wawancara dan mengucapkan terima kasih atas informasi yang diberikan oleh narasumber. Dalam tahapan ini pewawancara harus mengetahui dengan pasti bahwa informasi yang dibutuhkannya sudah cukup.
    Contoh:
    Pewawancara: Simpulannya, Bapak setuju bahwa pelaku korupsi harus dihukum seberat-beratnya.

Poin Penting

  1. Wawancara adalah proses komunikasi dua arah atau tanya jawab antara seorang penanya dengan yang memberikan informasi atau penjelasan.
  2. Orang yang mengajukan pertanyaan dinamakan pewawancara, sedangkan orang yang menjelaskan jawaban disebut narasumber.
  3. Wawancara ada tiga tahapan yakni, tahap pendahuluan, tahap inti, dan tahap penutup.
  4. Wawancara memerlukan berbagai persiapan, yakni sebagai berikut.
  • Menentukan topik yang akan dibahas. Penentuan topik ini penting karena berkaitan dengan narasumber yang akan ditanya dan susunan daftar pertanyaan yang akan diajukan;
  • Menentukan narasumber yang sesuai dengan topik. Hal ini dimaksudkan agar narasumber yang akan diwawancara adalah narasumber yang menguasai permasalahan atau mengetahui dengan pasti peritiwa yang akan diliput;
  • Menghubungi narasumber untuk membuat janji pertemuan melakukan wawancara;
  • Membuat daftar pertanyaan yang sesuai dengan topik yang telah ditentukan dengan menggunakan rumus sakti, yakni 5W + 1H (apa, siapa, di mana, kapan, mengapa, dan bagimana);
  • Menyiapkan daftar pertanyaan tambahan untuk lebih memperluas informasi;
  • Menguasai topik yang akan diwawancarai agar kita memahami topik yang ditanyakan;
  • Menyiapkan peralatan untuk melakukan wawancara, seperti kamera, recorder, dan sebagainya;
  • Menyiapkan mental diri kita sendiri agar tidak grogi ketika menghadapi narasumber;
  • Mengunakan pakaian dan penampilan yang sopan pada saat kamu mewawancarai narasumber.

Etika-Etika yang Berlaku Pada Saat Wawancara

Pernahkah kamu melihat seseorang yang melakukan wawancara? Para pewawancara mengenakan baju yang rapi dan bersikap yang santun saat mengajukan pertanyaan kepada narasumbernya. Untuk melakukan wawancara, ada etika tersendiri yang harus dipenuhi oleh seorang pewancara. Etika tersebut penting untuk diikuti oleh seorang pewawancara karena dengan menjalankannya dengan baik, bisa jadi narasumber justru lebih terbuka untuk mengungkapkan informasinya. Beberapa etika yang harus dilakukan oleh seorang pewawancaraadalah sebagi berikut.

  1. Jika pewawancara beasal dari sebuah institusi perusahaan, seorang pewawancara harus mengenalkan nama diri berikut nama perusahaan atau institusi yang menugaskannya. Hal ini penting agar narasumber percaya bahwa ia diwawancarai oleh institusi yang terpercaya.
    Contoh:
    Pewawancara : Selamat pagi, Pak. Nama saya Zahwa Rahmadani. Saya dari Majalah Perjuangan.
  2. Mengenakan pakaian yang rapi, bersih, dan sopan.
  3. Jagalah posisi duduk yang baik agar telihat lebih sopan sehingga tampak sangat menghormati narasumber.
  4. Menyembutkan tujuan mewawancarai.
    Contoh:
    Pewawancara : Selamat pagi Pak, Nama saya Zahwa Rahmadani. Saya dari Majalah Perjuangan. Saya ingin mewawancarai Bapak untuk mengetahui tanggapan Bapak terhadap kenakalan remaja saat ini.
  5. Jangan biarkan narasumber menunggu pada saat kita sudah berjanji untuk mewawancarainya. Jika narasumber sudah lebih dahulu datang, mintalah maaf kepada narasumber. Dalam hal ini, narasumber adalah sumber informasi. Kedatangannya justru sangat ditunggu. Jadi jangan biarkan mereka lebih dahulu datang.
  6. Hormati keinginan narasumber. Pada saat narasumber meminta agar ada bagian wawancara untuk tidak ditayangkan atau dimuat dalam surat kabar, pewawancara harus memenuhi keinginan tersebut. Ada berbagai alasan pendapatnya tidak ingin dimuat, misalnya menimbulkan kontroversi atau belum ada bukti yang kuat.
  7. Ada pula narasumber yang tidak ingin identitasnya disebutkan. Jika permintaan itu diajukan oleh narasumber, pewawancara sebaiknya memenuhi keinginannya. Hal itu disebabkan bisa jadi informasi yang disampaikannya akan membahayakan dirinya atau orang lain, bahkan mungkin mempermalukannya.
  8. Pada saat memulai wawancara, sampaikan terlebih dahulu topik-topik yang ringan. Hal ini dimaksudkan agar suasana keakraban antara narasumber dan pewawancara menjadi erat. Jika suasana nyaman sudah terbentuk, akan lebih mudah bagi narasumber untuk mengungkapkan informasinya.
  9. Jika pewawancara ingin menggali informasi sebaik-baiknya, sesuaikanlah karakter pewawancara dengan karakter narasumber. Hal ini bertujuan untuk memunculkan suasana keakraban sehingga lebih mudah menggali informasi.

      Selain etika dalam berperilaku, seorang pewawancara juga memiliki etika dalam berkomunikasi dengan narasumber. Etika berkomunikasi yang perlu dilakukan oleh seorang pewawancara adalah sebagai berikut.

  1. Pada saat berwawancara, perhatikan kata sapaan yang tepat kepada narasumber. Untuk menggunakan kata sapaan yang tepat, pewawancara harus mengetahui dengan tepat siapa orang diajak bicara. Artinya, pewawancara harus mengetahui dengan tepat usia, jabatan, pendidikan, dan hubungan kedekatan dengan narasumber. Dengan mengetahui siapa orang yang diajak bicara, pewawancara tidak akan salah menggunakan kata sapaan kepada narasumber.
    Contoh:
    Pewawancara : Siapa yang menjadi idola Adik untuk bidang fisika? (narasumber lebih muda dari pewawancara)
    Pewawancara : Bagaimana tanggapan Bapak/Ibu terhadap fenomena kenakalan remaja saat ini? (narasumber lebih tua dari pewawancara)
    Pewawancara : Bagaimana menurut Anda kondisi perekonomian saat ini? (narasumber berusia sama atau tidak jauh dari pewawancara)
  2. Pada saat mewawancarai, gunakanlah bahasa yang efektif dan mudah dipahami. Artinya, pewawancara harus menyesuaikan bahasa dengan narasumber. Dalam hal ini, pewawancara harus mengetahui dengan tepat latar belakang narasumbernya, baik dari segi pendidikan, pengetahuan, maupun tingkat kalangan masyarakat. Misalnya, ketika pewawancara mewawancarai para pedagang di pasar tentu akan berbeda bahasanya dengan mewawancarai seorang akademisi.
    Contoh:
    Pewawancara : Menurut Bapak, bagaimana pengaruh peningkatan harga BBM terhadap harga-harga bahan makanan pokok?
    Narasumber (pedagang di pasar): Wah harga naik semua Mas, saya susah jualnya.
    Narasumber (ekonom) : Pengaruhnya tentu saja sangat signifikan karena kenaikan BBM memengaruhi semua lini sehingga berpengaruh pada bahan makanan pokok.
  3. Pada saat mewawancarai narasumber, pewawancara tidak diperbolehkan memotong pembicaraan narasumber. Selain tidak sopan, hal itu justru menutup informasi yang seharusnya kita dapatkan secara mendetail.
  4. Pewawancara juga tidak diperbolehkan mendebat narasumber. Seorang pewawancara bertugas menggali informasi, bukan mengajukan pendapat pribadi. Jadi, jika tidak setuju dengan pendapat narasumber, ajukanlah dengan cara bertanya, bukan mendebat.
  5. Ajukan pertanyaan yang bersifat khusus, langsung pada permasalahan. Jangan mengajukan pertanyaan yang bersifat umum karena informasi yang dibutuhkan tidak akan tergali.
    Contoh:
    Pewawancara : Menurut Bapak, hukuman apa yang tepat untuk siswa yang terlibat tawuran?
    Narasumber : Saya akan langsung mengeluarkan siswa yang terlibat tawuran
  6. Seorang pewawancara harus mendengarkan jawaban dan uraian narasumber dengan baik. Hal itu untuk menghindari pengulangan jawaban dari narasumber.
  7. Hindari mengajukan dua pertanyaan sekaligus karena biasanya narasumber akan menjawab pertanyaan terakhir yang didengarnya. Selain itu,mengajukan dua pertanyaan sekaligus jugtru membuat narasumber menjadi kurang fokus pada pertanyaan yang diajukan.
  8. Hindari pertanyaan yang memojokkan narasumber agar informasi dapat lebih mudah tergali.
  9. Hindari mengajukan pertanyaan yang sama dengan kalimat yang berbeda.
  10. Gunakan pilihan kata yang tepat dan sopan pada saat mengajukan pertanyaan.
  11. Berikan kesempatan kepada narasumber untuk menjelaskan hal-hal yang belum dijelaskan oleh narasumber.

Poin Penting

  1. Mewawancarai seseorang harus sesuai dengan etika. Etika wawancara perlu dilakukan oleh pewawancara agar informasi dapat lebih mudah tergali dan sebagai bentuk penghormatan terhadap narasumber yang akan atau telah kita mintai keterangannya.
  2. Etika wawancara mencakup etika dalam berperilaku dan etika dalam berkomunikasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *