Struktur dan Ciri-Ciri Kebahasaan Teks Cerita Moral atau Fabel

By | April 13, 2020

Struktur dan Ciri-Ciri Kebahasaan Teks Cerita Moral atau Fabel – Pernahkah kamu membaca teks yang bercerita tentang hewan-hewan yang berperilaku layaknya manusia? Hewan-hewan tersebut mampu berpikir dan berperasaan seperti manusia? Itulah salah satu ciri dari teks cerita fabel.

Struktur dan Ciri-Ciri Kebahasaan Teks Cerita Moral atau Fabel

Struktur dan Ciri-Ciri Kebahasaan Teks Cerita Moral atau Fabel

Perhatikan Contoh

Struktur Isi Teks Cerita Moral/Fabel

Cerita fabel dapat dipastikan merupakan cerita fiktif artinya adalah khayalan belaka. Namun, cerita fabel digunakan sebagai penyampai pendidikan moral karena di dalamnya selalu terkandung pesan moral. Sama halnya dengan teks yang lainnya, teks cerita fabel pun memiliki struktur yang jelas. Nah, materi kita kali ini adalah memahami isi struktur teks fabel tersebut. Ayo, siapa yang tahu struktur isi teks fabel? Teks fabel atau yang biasa juga disebut teks cerita moral memiliki empat struktur bagian isi. Struktur isi tersebut terdiri atas orientasi ^ komplikasi ^ resolusi ^ koda.

Agar pemahaman kalian tentang struktur isi teks fabel terbangun, pahamilah penjelasan berikut ini.

Struktur Teks Fabel

1. Orientasi
Ciri atau penanda:
a. Bagian ini berisi pengenalan tokoh/penokohan dan penggambaran latar.
b. Bagian ini biasanya ditandai dengan frasa pada suatu hari, pada pagi yang cerah, di sebuah hutan, atau hiduplah seekor kancil yang sangat cerdik.

Contoh

Pada zaman dahulu di sebuah hutan yang sangat lebat, hiduplah seekor semut yang sangat rajin. Si Semut selalu bangun pagi sekali setiap hari. Semut selalu berjalan ke tepi sungai untuk mandi sekaligus memenuhi kebutuhannya akan air.

2. Komplikasi
Ciri atau Penanda
a. Bagian ini berisi munculnya konflik yang dihadapi tokoh. Selain itu, di bagian ini pula antiklimaks terjadi.
b. Bagian ini biasanya ditandai dengan kalimat yang menunjukkan munculnya konflik, misalnya, saat itu semut melihat banyak sekali buaya di pinggir sungai atau tiba-tiba Si Semut terpeleset dan jatuh ke dalam sungai yang di dalamnya terdapat buaya.
Contoh:

Saat menghampiri sungai, Semut melihat banyak sekali buaya yang sedang berjemur. Melihatnya saja Semut sudah sangat ketakutan. Semut berpikir kalau buaya adalah makhluk yang sangat jahat. Dia takut kalau buaya akan memakannya sebagai sarapan. Namun, Semut tak kuasa kembali ke rumah karena air yang dibutuhkan semut belum terambil. Semut pun menunggu buaya-buaya itu pergi.
Tiba-tiba, ketika akan bersembunyi, Semut terpeleset dan jatuh hingga sebatang ranting menghimpitnya. Semut tak bisa bergerak. Dengan sekuat tenaga Semut berteriak meminta tolong.

3. Resolusi
Ciri atau Penanda:
a. Bagian ini berisi pemecahan masalah yang dihadapi tokoh.
b. Bagian ini biasanya memiliki penanda kalimat yang bermakna penyelesaian konflik, misalnya, ketika mendengar seseorang meminta tolong, buaya langsung menghampirinya dan langsung menolong atau untung saja buaya mendengar teriakan semut sehingga ia menghampirinya dan langsung menolong.
Contoh:

Untuk beberapa saat tidak ada satu binatang pun yang mendengar teriakan Semut. Namun, tak berapa lama kemudian Buaya mendengar teriakan minta tolong Semut. Mendengar itu, Buaya langsung menghampiri sumber suara. Buaya kaget melihat Semut sedang merintih kesakitan tertimpa ranting. Dengan segera, Buaya mendorong ranting agar tidak menindih badan Semut. Akhirnya, Semut tidak lagi tertindih. Semut sangat lega. “Apakah kamu baik-baik saja, Semut?” tanya Buaya. Dengan sedikit ketakutan, Semut menjawab, “Iya, Bbbbbuaya, saya baik-baik saja.” “Syukurlah kalau kamu baik-baik saja, Semut,” lanjut Buaya lagi. Dengan penasaran Semut bertanya,”Apakah kamu akan memakanku Buaya?” “Apa? Memakanmu? Tentu tidak Semut,” Buaya menjelaskan dengan tersenyum. “Aku tidak akan memakanmu, Semut. Aku hanya memangsa binatang yang jahat,” lanjut Buaya. Mendengar penjelasan Buaya, Semut sangat senang.

4. Koda
Ciri atau Penanda:
a. Bagian ini berisi ending cerita. Selain itu, bagian ini juga memuat nilai moral yang disampaikan melalui tokohnya secara tersurat.
b. Bagian ini biasanya ditandai dengan kata akhirnya atau kalimat yang menunjukkan pesan moral, misalnya, Semut berjanji tidak akan berburuk sangka lagi.
Contoh:

Akhirnya, Semut berjanji kepada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan lagi berprasangka buruk terhadap makhluk mana pun. Ia tidak akan menilai binatang lain hanya dari tampilan luarnya saja.

Ciri-Ciri Kebahasaan Teks Cerita Moral/Fabel

Tujuan Pembelajaran: Siswa mampu memahami fitur kebahasaan teks cerita moral/fabel, baik secara lisan maupun tulisan

“Sang Kancil memakan buah-buahan itu dengan cepat. Kemudian, dia berkunjung ke rumah Si Kera. Pada pagi hari yang cerah itu Kancil sudah ada di rumah Kera.” Nah, pasti kamu sudah membaca kutipan fabel di atas, bukan? Apakah kamu tahu apa itu sang atau si? Apakah kamu tahu apa perbedaan jenis kata memakan dan berkunjung? Tenang. Semuanya akan dijelaskan dalam materi kita kali ini. Betul. Materi kita kali ini adalah ciri kebahasaan atau fitur kebahasaan yang terdapat dalam teks cerita moral/fabel.

Fitur kebahasaan yang terdapat dalam teks fabel ada empat: kata kerja, kata sandang, kata keterangan, dan kata hubung. Supaya lebih jelas, pahamilah ilustrasi berikut ini!

1. Verba—dalam bahasa Indonesia—terdiri atas dua jenis: transitif dan intransitif. Verba transitif akan membentuk kalimat transitif, yaitu kalimat yang memiliki objek. Sebaliknya, verba intransitif adalah verba yang membentuk kalimat intransitif, yaitu kalimat yang tidak memiliki objek.
Contoh:
a. Ibu Dini

menjual sayuran. (S-P-O kalimat transitif)

b. Ibu Dini berjualan sayuran. (S-P-O kalimat intransitif)
Keterangan:
Ciri kalimat transitif adalah dapat dipasifkan, sedangkan kalimat intransitif tidak dapat dipasifkan.
a. Sayuran dijual (oleh) Ibu Dini. (berterima)
b. Sayuran berjualan Ibu Dini. (tidak berterima)

2. Kata sandang adalah kata yang dipakai di depan nomina. Kata sandang sang digunakan di depan nomina yang dianggap mulia. Misalnya, Sang Raja telah mangkat. Sebaliknya, kata sandang si digunakan di depan nomina yang dianggap kurang mulia (sapaan akrab). Misalnya, Si Kera dan si Monyet.

3. Kata penanda keterangan adalah kata yang digunakan untuk menandakan unsur keterangan dalam sebuah kalimat. Unsur keterangan biasanya ditandai dengan adanya preposisi yang mengawali frasa. Misalnya, keterangan waktu ditandai dengan adanya preposisi pada. Contohya, Pada zaman dahulu kala hiduplah seekor monyet yang sangat periang. Sementara itu, keterangan tempat biasanya ditandai dengan preposisi di. Contohnya, Di sebuah hutan yang sangat lebat Semut hidup bersama keluarganya dengan sangat damai.

4. Konjungsi adalah kata hubung. Konjungsi yang menjadi penanda kebahasaan dalam teks fabel adalah lalu, kemudian, dan akhirnya. Konjungsi lalu dan kemudian memiliki fungsi ganda, yaitu sebagai konjungsi intrakalimat sekaligus antarkalimat. Sementara itu, konjungsi akhirnya berfungsi sebagai konjungsi antarkalimat yang menyatakan kesimpulan atau akhir cerita.
Contoh:
• Kancil makan dengan lahap, lalu/kemudian ia pergi ke tepi sungai. (intrakalimat)
• Kancil menggenggam makanan itu dengan erat. Lalu/Kemudian, dengan sangat hati-hati Kancil memasukkan makanan itu ke dalam keranjang. (antarkalimat)
• Akhirnya, Semut sadar akan kesalahannya. (antarkalimat, akhir cerita)

Poin Penting

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *