Perbandingan Struktur isi dan Ciri Bahasa Dua Teks Cerita Ulang

By | June 5, 2020

Perbandingan Struktur isi dan Ciri Bahasa Dua Teks Cerita Ulang – Pada materi sebelumnya, kalian telah memahami struktur dan ciri bahasa teks ulang. Pada materi kali ini, kita akan mencoba membandingkan dua teks cerita ulang berdasarkan struktur dan ciri bahasanya.

Perbandingan Struktur isi dan Ciri Bahasa Dua Teks Cerita Ulang

Perbandingan Struktur isi dan Ciri Bahasa Dua Teks Cerita Ulang

Bandingkanlah dua teks ulang berikut!

Mohammad Hatta
Sang Nasionalis Sejati

(1) Namanya tidak hanya terkenal karena bagian dari dwitunggal bersama Soekarno, tetapi juga karena jasa-jasanya yang lain terhadap bangsa Indonesia. Pria yang disapa Bung Hatta ini lahir pada tanggal 12 Agustus 1902 .Ayahnya bernama H. Mohammad Djamil. Sejak duduk di MULO sudah tertarik dengan pergerakan sehingga saat perkumpulan-perkumpulan muda banyak merebak pada tahun 1916, ia mendaftarkan diri masuk ke perkumpulan Jong Sumatranen Bond dan bertugas sebagai bendahara. Dalam menjalankan tugasnya ini, Bung Hatta dikenal disiplin dan penuh rasa tanggung jawab.

(2) Pada tahun 1921, Bung Hatta pergi ke Belanda untuk menempuh studi di Handel Hode School di Rotterdam dan pada tahun 1922 mendaftar sebagai anggota Indische Vereniging, suatu organisasi yang menjadi cikal bakal Perhimpunan Indonesia. Setelah lulus pada tahun 1923, Hatta nonaktif dari PI untuk melanjutkan studi pada jurusan hukum negara dan hukum administratif. Akan tetapi, karena perpanjangan studi inilah, Hatta terpilih sebagai ketua PI pada tahun 1926 dan di bawah pimpinannya, PI ternyata menjadi organisasi politik yang memengaruhi jalannya politik di Indonesia dan menjadi alat propaganda yang efektif di Eropa dalam mengenalkan Indonesia.

(3) Pada Agustus 1932, Hatta kembali ke Indonesia setelah menamatkan studinya. Di Indonesia, ia aktif dalam berbagai kegiatan organisasi dan produktif dalam menulis artikel untuk Daulat Ra’jat, khususnya mengenai masalah-masalah penahanan Soekarno, ekonomi, dan politik. Kegiatannya ini mendapat perhatian dari pihak Belanda sehingga ditahan dan dibuang ke Boven Digoel (Papua) bersama dengan Sutan Sjahrir.

(4) Pada masa menyambut kemerdekaan, Hatta menjadi anggota BPUPKI dan mendapat mandat dalam membahas ekonomi dan keuangan pada sidang II BPUPKI. Setelah Proklamasi, pada tanggal 18 Agustus 1945 di dalam sidang I PPKI, Hata dikukuhkan secara aklamasi sebagai wapres RI mendampingi Soekarno.

Sutan Sjahrir
Perdana Menteri Pertama Republik Indonesia

(1) Sutan Sjahrir lahir di Padang, Sumatra Barat pada 5 Maret 1909. Ia menikah dengan Siti Wahyunah pada tahun 1951 dan dikarunai dua orang anak. Ia dikenal sebagai Ketua Komite KNIP dan merangkap sebagai Ketua Badan Pekerja KNIP pada masa-masa awal revolusi kemerdekaan Indonesia. Ia lebih dikenal saat menjabat sebagai Perdana Menteri Pertama Republik Indonesia.

(2) Pada usia mudanya, ia adalah siswa yang aktif dalam berbagai kegiatan sosial yang dalam prosesnya mulai menjurus ke arah politis. Oleh karena itu, pada tahun 1927, Sjahrir tercatat sebagai sepuluh orang yang menggagas pendirian himpunan pemuda nasionalis bernama Jong Indonesie yang menjadi cikal bakal Pemuda Indonesia. Perkumpulan inilah yang menjadi penggerak penyelenggaraan Kongres Pemuda Indonesia yang mencetuskan Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928.

(3) Sjahrir kemudian melanjutkan pendidikannya ke Belanda di Fakultas Hukum Universitas Amsterdam, Leiden. Di sana ia belajar teori-teori sosialisme secara mendalam. Pada awal tahun 1930, Belanda menunjukkan sikap kerasnya terhadap organisasi-organisasi nasional dengan merazia dan menangkapi aktivis-aktivis pergerakan. Kejadian ini berbuntut pada pembubaran Partai Nasional Indonesia yang dilakukan oleh aktivis PNI sendiri. Pada 1932 Sjahrir bersama Bung Hatta pada tahun 1932 memimpin PNI baru. Namun, karena dianggap lebih radikal dibandingkan Soekarno, Mereka dibuang ke Boven Digul pada Februari 1934.

(4) Saat Proklamasi Kemerdekaan RI, Sjahrir didukung oleh golongan pemuda untuk duduk dalam format kabinet parlementer dan pada usia 36 tahun menjadi perdana menteri pertama RI dan juga perdana menteri termuda di dunia.

Sudahkah kalian pahami kedua teks biografi di atas? Dapatkah kalian menganalisis perbedaan struktur dan ciri kebahasaannya?

Mari analisis

Kedua teks memiliki struktur yang sama, yaltu:
1. Orientasi : bagian 1
2. Urutan peristiwa : bagian 2 – 3
3. Reorientasi : bagian 4
Persamaan kedua teks tersebut adalah sama-sama bercerita tentang perjalanan hidup mulai dari masa muda dan perjalanan politiknya.
da perbedaan yang muncul dari teks di atas, yaitu pada informasi pribadi kedua tokoh. Teks 1 menyebut orang tua Mohammad Hatta, sedangkan teks 2 tidak menyebutkan orang tua Sutan Sjahrir. Sebaliknya, teks 2 menyebutkan istri dan anak-anak Sutan Sjahrir. Informasi keluarga seperti ini tidak terdapat pada teks biografi Moh. Hatta.
Dari ciri kebahasaan, kedua teks tersebut memperlihatkan ciri kebahasaannya sebagai berikut.

1. Penggunaan pronomina

Teks I: Pronomina persona (ia, -nya) dan pronomina (ini, inilah)
Teks II: Pronomina persona (ia, -nya, mereka) dan pronomina tunjuk (ini, inilah)

2. Penggunaan konjungsi

Teks 1

Konjungsi intrakalimat yang dipakai teks 1: Karena, sehingga, yang, tetapi, sejak,saat, setelah dan sebelum. Sedangkat pada teks 2. Konjungsi antarkalimalatnya adalah akan tetapi.

Teks 2
Konjungsi intrakalimat yang dipakai teks 2 : dan, yang, dan karena
sedangkan antarkalimatnya adalah oleh karena itu.

3. Penggunaan verba material

Teks 1 : mendaftarkan, bertugas, menjalankan, pergi, menempuh, mendaftar, melanjutkan, memengaruhi, mengenalkan, menamatkan, menulis, membuat, membahas, mendampingi

Teks 2 : menikah, menggagas, mencetuskan, melanjutkan, menunjukkan, merazia, menangkapi.

Poin penting

Hal yang perlu kita kaji kala membandingkan dua teks ulang, yaitu struktur dan ciri kebahasaannya. Struktur teks ulang terbagi ke dalam tiga bagian: (1) orientasi, (2) urutan peristiwa tokoh, dan (3) reorientasi. Adapun ciri kebahasaan teks ulang, seperti (1) penggunaan kata ganti tanya apa dan siapa, (2) penggunaan pronomina, (3) penggunaan kata yang menunjukkan kejadian dan peristiwa, (4) penggunaan verba material, (5) penggunaan konjungsi, baik temporal, intrakalimat, maupun antarkalimat, dan (6) penggunaan kalimat simpleks.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *