Analisis isi Teks Pantun dan Bahasa Teks Pantun

Analisis isi Teks Pantun dan Bahasa Teks Pantun – Pada materi yang lalu, kita telah mampu mehamami bagaimana langkah-langkah dalam memproduksi teks pantun. Kini kita akan belajar menganalisis isi teks pantun dengan tujuan untuk memahami makna-makna yang terkandung di dalamnya.

Analisis isi Teks Pantun dan Bahasa Teks Pantun
Analisis isi Teks Pantun dan Bahasa Teks Pantun

Perlu kita pahami bahwa hakikat pantun adalah tunjuk ajar, yaitu sebagai media pembelajaran nilai-nilai agama, budaya, dan norma yang diyakini oleh masyarakat. Pengajaran nilai-nilai tersebut dapat disampaikan dengan berbagai macam cara, bisa dengan sindiran (satire), nyanyian, atau hiburan. Terlebih dalam satire, pantun digunakan untuk memperhalus sindiran agar yang disampaikan tidak menyakiti perasaan seseorang. Dalam pendidikan keluarga, orang tua zaman dulu biasa menggunakan pantun sebagai alat pemberi nasihat. Dalam beberapa tradisi, pantun dijadikan syarat dalam perkawinan. Begitu banyaknya tujuan pantun membuktikan betapa pentingnya kedudukan pantun di dalam budaya masyarakat.

Dari isi-isi dan tujuan yang disampaikan itulah jenis pantun dibedakan. Ada pantun sukacita, pantun nasib, pantun perkenalan, pantun berkasih-kasihan, pantun perpisahan, pantun beriba hati, pantun jenaka, pantun teka-teki, pantun nasihat, pantun adat, dan pantun agama.

Berikut adalah contoh-contohnya!

Pantun sukacita

Anak itik main di padang
Bertemu katak lalu berteman
Hati senang tiada kepalang
Ayah pulang membawa mainan

Pantun agama

anak kecil main layang-layang
yang dibeli ayah dari Batam
Isilah hidup dengan sembahyang
Hidup nyaman hati pun tentram

Pantun nasihat

Padang semak padang belukar
Di tengah-tengahnya pohon rindang
Hilangkan mencontek banyak belajar
Nilai yang jujur hati pun senang

Pantun perpisahan

Rumput tinggi di padang ilalang
Terkena hujan semua basah
Bolehlah hati merasa bimbang
Sahabat karib akan berpisah

Pantun beriba hati

Makan mie memakai sumpit
Sumpit jatuh mangkuknya goyang
Sedihnya hati begitu sakit
Melihat dinda dipinang orang

Pantun berkasih-kasihan

Ke taman safari bertemu singa
Singa mengaum kagetlah orang
Alangkah senang hati berbunga
Dinda terima lamaran abang

Pantun perkenalan

Sabun untuk hilangkan kuman
Bukan untuk penghilang hama
Gadis manis duduk di taman
Bolehkah abang bertanya nama?

Pantun adat

Aku punya seorang teman
Ia telah beranak dua
Dalam Jawa lelaki diharapkan
Menjunjung tinggi derajat orang tua

Pantun nasib

Melompat-lompat si anak kijang
Singa mengintip siap menerkam
Begini nasib si tua lajang
Tidur sendiri setiap malam

Pantun jenaka

Jemur serabut di atas papan
Pancing ikan di kampung belawan
Bicara banyak saya paling depan
Bicara makan saya paling duluan

Poin Penting

Terdapat beberapa jenis pantun yang dibedakan berdasarkan isi: pantun sukacita, pantun nasib, pantun perkenalan, pantun berkasih-kasihan, pantun perpisahan, pantun beriba hati, pantun jenaka, pantun teka-teki, pantun nasihat, pantun adat, dan pantun agama.

Bahasa Teks Pantun

Pada materi yang lalu, mungkin kalian masih ingat bahwa dalam menganalisis isi teks pantun kita dapat menemukan berbagai macam jenis pantun. Pada materi kali ini kita akan memasuki tahap berikutnya, yaitu menganalisis bahasa teks pantun.
Jika kalian perhatikan bentuk-bentuk pantun lama, akan kita temukan bahwa sampiran tidak hanya muncul sebagai pelengkap yang memberi keindahan bunyi, tetapi juga berfungsi memudahkan pembaca/pendengar pantun dalam memahami isi. Dengan kata lain, dalam pantun lama, sampiran dan isi memiliki hubungan yang terikat erat. Sampiran berkorelasi dengan isi membentuk makna. Berikut adalah contoh pantun lama yang mungkin beberapa di antaranya pernah kalian dengar.

Perhatikan!

Pantun 1
Dari mana datangnya lintah
Dari tanah turun ke kali
Dari mana datangnya cinta
Dari mata turun ke hati

Pantun 2
Malam ini malam selikur
Malamlah luse lah tiga puluh
Malam ini kite bercampur
Malamlah luse bercerai jauh

Pantun 3
Bening-bening air di tingkat
Kurang manis tambah gula
Putih kuning lagi tak dapat
Hitam manislah hilang pula

Mari analisis!

Jika kita perhatikan ketiga pantun di atas, akan terlihat ciri-ciri pantun lama. Pada pantun 1 dan 2, sampiran yang muncul menyiratkan makna dari isi pantun. Diksi baris 1 dari mana datangnya yang direpetisi pada baris 3 mencerminkan sebuah proses hadirnya sesuatu. Jika pada baris 1 sampiran dijelaskan proses hadirnya linta(h), pada baris ketiga isi dijelaskan proses hadirnya cinta.

Pada pantun 2, hubungan antara sampiran dan isi juga masih terlihat. Sampiran baris 1 dan 2 yang menggunakan diksi malam ini malam selikur (baris 1) dan malamlahluse lah tiga puluh (baris 2) menyiratkan suatu pesan kepada pembaca bahwa sang penyair tampak sedang menghitung-hitung hari. Pemaknaan yang lebih lengkap akan kita dapatkan saat membaca baris 3 dan 4. Malam-malam yang dihitung penyair ternyata berkaitan dengan akan munculnya malam perpisahan (baris 4).

Pantun 3, walaupun sama-sama pantun lama, memiliki perbedaan dibandingkan pantun lainnya. Isi pada pantun 3 lebih sulit dimaknai. Sampiran pun terkesan tidak memberikan kemudahan dalam memahaminya. Untuk hal ini, kita perlu melihat diksi yang membentuk lambang/simbol-simbol. Putih kuning (baris 3) dan hitam manis (baris 4) adalah diksi yang sering digunakan untuk melambangkan warna kulit manusia. Dengan kata lain, pantun ini tampaknya memberikan pesan mengenai penyesalan atas nasib yang telah terjadi karena tidak mendapatkan kekasih hati yang terlihat pada diksi tak dapat (baris 3) dan hilang (baris 4).

Mengapa nasib tersebut bisa terjadi? Di sinilah baris sampiran menunjukkan hubungannya dengan isi. Sampiran ternyata memberikan jawaban. Perhatikan diksi bening air di tingkat pada baris 1. Apa maksud penyair mengamati tetesan air di tingkat dan mengapa tidak melihat genangan air atau tetesan yang jatuh dari daun? Diksi tingkat dapat saja dimaknai sebagai sesuatu yang tinggi. Mungkinkah penyair memilih kekasih yang tinggi/berkualitas saja? Kedaan yang sama pun muncul pada baris kedua pada diksi kurang manis. Dengan demikian, mungkin saja hal ini terjadi karena penyair terlalu lama memilih-milih dan tidak cepat mengambil keputusan.

Berdasarkan analisis di atas, kita telah membuktikan betapa pantun lama lebih kompleks dibandingkan dengan pantun yang muncul belakangan. Dalam perkembangannya, dalam hal ini pantun modern, hubungan antara sampiran dan isi pantun tidaklah erat. Mereka tidak memiliki hubungan substansi. Perhatikan contoh berikut!

Pantun 1

Si Kabayan jadi pahlawan
Dipuji Iteung merah bersemu
Kalau Dinda mau berkenan
Berikan abang pin BB mu

Pantun 2

Beli mi instan satu kardus
Kardus dipaket dengan rapi
Di depan ada lokasi bagus
Mari mari kita foto selfi

Pantun 1 merupakan jenis pantun nasihat. Hal ini dapat dengan mudah kita pahami melalui isi pada baris 3 dan 4, sedangkan pantun 2 termasuk ke dalam pantun sukacita. Baik pantun 1 maupun pantun 2 memiliki kesamaan, yaitu setiap sampiran yang muncul hanya digunakan untuk memberikan keindahan bunyi/kesesuaian rima. Bahasa yang digunakan pun mengandung diksi-diksi masa kini, seperti BB dan selfie. Hal-hal tersebut merupakan ciri pantun modern.

Poin Penting

Sementara sampiran pada pantun modern hanya digunakan untuk membentuk rima, bentuk pantun lama memiliki sampiran yang tidak hanya muncul sebagai pelengkap yang memberi keindahan bunyi, tetapi juga berfungsi memudahkan pembaca/pendengar pantun dalam memahami isi. Bahasa dan penggunaan diksi pada sampiran juga menegaskan makna yang terkandung dalam baris isi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *