Analisis Bahasa Teks Cerita Sejarah
Analisis Bahasa Teks Cerita Sejarah

Analisis Bahasa Teks Cerita Sejarah

1440 View

Analisis Bahasa Teks Cerita Sejarah – Siswa mampu menganalisis bahasa teks cerita sejarah. Sebelum menyimak materi ini, mari kita ikuti kuis berikut ini!

Analisis Bahasa Teks Cerita Sejarah
Analisis Bahasa Teks Cerita Sejarah

Perhatikan peristiwa sejarah yang terjadi di Indonesia berikut ini. Sambungkan pernyataan yang terdapat dalam kotak kiri ke kotak kanan dengan mengisi kotak berisi titik-titik di tengahnya. Kamu cukup sebutkan SETELAH atau SEBELUM. Begitu pula dengan pernyataan yang terdapat dalam kotak atas ke kotak bawah.

Agar dapat mengisi kotak bertitik-titik di atas, kamu perlu mengetahui urutan peristiwa sejarah di atas. Paling tidak, kamu mengetahui tahun terjadinya setiap peristiwa tersebut. Dengan demikian, kamu dapat menulis sebelum atau setelah dalam kotak bertitik-titik di atas.

Analisis Bahasa Teks Cerita Sejarah

Jika seluruh peristiwa tersebut ditulis dalam bentuk teks cerita sejarah, maka penggunaan kata sebelum dan setelah seringkali muncul. Hal tersebut disebabkan teks cerita sejarah berisi mengenai urutan waktu terjadinya sebuah peristiwa. Penggunaan kata tersebut hanya satu di antara sekian banyak ciri kebahasaan yang biasa digunakan dalam teks cerita sejarah. Pada materi ini, kamu akan mempelajari ciri kebahasaan teks cerita sejarah dan menganalisisnya.

Sebagai suatu teks, teks cerita sejarah memiliki ciri kebahasaan tersendiri. Ciri kebahasaan tersebut antara lain tecermin dalam beberapa hal berikut.

1. Frasa Nomina dan Verba
Frasa di antaranya terdiri atas frasa nomina dan verba. Sesuai namanya, frasa nomina merupakan kelas kata nomina yang diperluas, seperti: gadis cantik, rumah megah, ruang tidur, kantor berita, dan lain-lain. Berdasarkan

fungsinya, frasa nomina terbagi menjadi tiga jenis, yaitu sebagai berikut.
a. Frasa nomina modifikatif, yaitu gabungan kata yang bersifat membatasi atau menerangkan unsur utamanya. Misalnya: rumah mewah (rumah yang mewah, bukan rumah yang kecil), ketua kelompok, dan uang receh.
b. Frasa nomina koordinatif, yaitu gabungan kata yang memiliki kedudukan setara dan tidak saling menerangkan. Salah satu cirinya, gabungan kata tersebut dapat dihubungkan dengan konjungsi dan/atau. Misalnya: sandang (dan) pangan, hak kewajiban, dan lahir batin.
c. Frasa nomina apositif, yaitu gabungan kata yang berfungsi sebagai keterangan yang ditambahkan atau diselipkan pada kata atau frasa tertentu. Misalnya: Arman, teman adikku, datang ke rumah tadi pagi. Frasa teman adikku menerangkan kata Arman.

Sama halnya dengan frasa nomina, frasa verba juga terbagi menjadi tiga jenis berikut.
a. Frasa verba modifikatif, seperti: Ibu bekerja keras untuk membahagiakan anaknya.
b. Frasa verba koordinatif, seperti: Premanisme merusak dan menghancurkan nilai-nilai luhur Pancasila.
c. Frasa verva apositif, seperti: Bisnis yang dijalankannya, berdagang pakaian secara daring, semakin sukses saat ini.

2. Konjungsi Temporal
Dalam teks cerita sejarah biasanya digunakan konjungsi temporal. Konjungsi temporal adalah kata penghubung yang menyatakan urutan tindakan atau waktu yang biasanya ada dalam teks cerita sejarah. Konjungsi temporal terdiri atas dua bagian, yaitu konjungsi temporal sederajat dan konjungsi temporal tidak sederajat.

Konjungsi temporal sederajat yaitu konjungsi yang menghubungkan dua unsur dalam kalimat yang sederajat atau setara. Konjungsi ini biasanya digunakan dalam kalimat majemuk setara. Konjungsi temporal sederajat di antaranya adalah lalu, kemudian, selanjutnya, dan sebelumnya. Misalnya: Jepang menyerah kepada sekutu, kemudian meninggalkan koloninya satu per satu.

Adapun konjungsi temporal tidak sederajat yaitu konjungsi yang menghubungkan dua unsur dalam kalimat yang tidak sederajat atau setara. Konjungsi ini biasanya digunakan dalam kalimat majemuk bertingkat. Konjungsi temporal tidak sederajat di antaranya adalah apabila, jika, bilamana, hingga, ketika, saat, sambil, sebelum, sampai, sejak, selama, sementara, seraya, dan tatkala. Misalnya: Perang dingin terjadi setelah perang dunia II berakhir.

3. Nominalisasi
Nominalisasi adalah pembentukan nomina dari kelas kata lain dengan menggunakan afiks (imbuhan) tertentu. Pembentukan nomina tersebut dapat berasal dari kelas kata verba, adjektiva, atau nomina lainnya. Teks cerita sejarah merupakan jenis teks penceritaan ulang (rekon/recount). Dalam teks penceritaan ulang seringkali ditemukan nomina yang merupakan hasil nominalisasi. Pemberian imbuhan terhadap kata yang mengalami nominalisasi disebut dengan afiksasi. Afiksasi yang sering terjadi dalam nominalisasi antara lain sebagai berikut:
a. Sufiks –an, -at, -si, -ika, -in, -ir, -tur, -ris, -us, -isme, -is, -isasi, -isida, -ita, -or, dan –tas.
Contoh: bacaan (baca+an), manisan (manis+an), sosialisasi (sosial+isasi), dan kritikus (kritik+us).
b. Prefiks ke-, pe-, dan se-.
Contoh: ketua (ke+tua), pedagang (pe+dagang), dan sekelas (se+kelas).
c. Konfiks ke-an, pe-an, dan per-an.
Contoh: pengaturan (pe+atur+an), pertunjukan (per+atur+an), dan kekayaan (ke+kaya+an).
d. Infiks –el- dan –er-.
Contoh: gelembung (gembung+el), telunjuk (tunjuk+el), dan jemari (jari+em).
e. Kombinasi afiks pemer-, keber-an, kese-an, keter-an, pember-an, pemer-an, penye-an, perse-an, dan perseke-an.
Contoh: keberhasilan (keber+hasil+an), keterlibatan (keter+libat+an), dan penyesuaian (penye+suai+an)

Perhatikan Contoh


Mari Kita analisis

Setelah membaca teks cerita sejarah di atas secara saksama, kita dapat menganalisis ciri kebahasaan teks tersebut melalui tiga hal berikut.

1. Penggunaan frasa nomina dan verba
Dalam teks cerita sejarah di atas, ditemukan beberapa frasa nomina berikut.
– Frasa nomina modifikatif, seperti: hari bahasa ibu dan kemerdekaan Pakistan.
– Frasa nomina koordinatif, seperti: kedua wilayah juga memiliki kondisi sosial budaya yang berbeda.
– Frasa nomina apositif, seperti: …. dideklarasikan dalam konferensi pendidikan di Karachi, ibukota Pakistan.
Selain itu, terdapat juga beberapa frasa verba berikut.
– Frasa verba modifikatif, seperti: Masyarakat Pakistan Timur akhirnya dapat menggunakan bahasa Bengali.
– Frasa verba koordinatif, seperti: …. masyarakat Pakistan Timur mulai melakukan dan menggencarkan aksi protes ….

2. Konjungsi temporal
Dalam teks cerita sejarah di atas juga digunakan beberapa konjungsi temporal seperti pada contoh berikut.
– Pertikaian antara Pakistan Barat dan Pakistan Timur memburuk saat pemerintah menyatakan akan mengadopsi bahasa Urdu sebagai bahasa resmi negara (tidak sederajat).
– Setelah deklarasi tersebut, masyarakat Pakistan Timur mulai melakukan dan menggencarkan aksi protes pada tahun 1947 (tidak sederajat).

3. Nominalisasi
Nominalisasi yang terdapat dalam teks cerita sejarah di atas antara lain sebagai berikut.
– kemerdekaan, yaitu ke- + merdeka + -an, dibentuk dari konfiks dan adjektiva.
– peringatan, yaitu pe-(N) + ingat + -an, dibentuk dari konfiks dan verba.
– Pemerintah, yaitu pe-(N) + perintah, dibentuk dari prefiks dan verba.

Poin Penting

Kita dapat menganalisis bahasa teks cerita sejarah dengan memperhatikan penggunaan frasa nomina dan verba, penggunaan konjungsi temporal, serta nominalisasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *